Logo Bloomberg Technoz

Cara Warsh mengarahkan narasi terkait suku bunga dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah kepemimpinannya dan membentuk persepsi publik bahwa ia menjaga independensi The Fed. Meskipun Donald Trump menyatakan ingin Warsh bertindak independen, tekanan politik untuk menurunkan suku bunga tetap ada.

Hanya beberapa jam setelah memimpin upacara pelantikan Warsh minggu lalu, Trump menyatakan dirinya berharap suku bunga akan turun "dengan sangat cepat."

Perubahan Ekspektasi

Pergeseran arah suku bunga ini terjadi karena biaya energi diperkirakan tetap tinggi selama beberapa bulan ke depan, bahkan jika konflik Iran berakhir. Selain itu, lonjakan investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI) turut mendorong tekanan inflasi yang lebih luas.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa pekan terakhir memperingatkan bahwa bank sentral tidak bisa lagi memberikan sinyal bahwa penurunan suku bunga akan menjadi langkah berikutnya. Sebaliknya, mereka lebih memilih untuk menyoroti risiko pengetatan kebijakan. Hal ini merupakan perubahan drastis dari awal tahun ketika para pejabat memproyeksikan pelonggaran tambahan pada 2026.

Dalam wawancara di Bloomberg Television hari Kamis (28/5), Gubernur The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan bahwa probabilitas pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang "harus lebih besar dari nol." Secara terpisah, Gubernur The Fed New York John Williams menyatakan meyakini kebijakan saat ini berada dalam posisi yang tepat untuk merespons dampak perang.

Meski demikian, peringatan tersebut tidak berarti para pejabat berniat menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Berakhirnya konflik di Timur Tengah akan memberikan waktu bagi pembuat kebijakan untuk menilai dampaknya. Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja yang berada dalam siklus rendahnya perekrutan dan pemutusan hubungan kerja juga menjadi faktor penyeimbang terhadap kebutuhan pengetatan kebijakan.

"Kami menilai standar untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi daripada standar untuk menurunkannya, bahkan sebelum Kevin Warsh menjabat," kata Robert Sockin, kepala ekonom AS di PGIM.

Namun, inflasi saat ini telah memasuki area yang tidak diperkirakan pada awal tahun. Indeks harga konsumen (IHK) pada bulan April naik signifikan sejak 2023, yang membuat investor berbalik arah dari memperkirakan penurunan menjadi memperkirakan kenaikan suku bunga.

Ekspektasi inflasi jangka panjang juga terdampak. Berdasarkan survei konsumen Universitas Michigan untuk bulan Mei, konsumen memperkirakan harga-harga akan naik 3,9% secara tahunan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, naik dari 3,5% pada April dan menjadi yang tertinggi dalam tujuh bulan.

"Alih-alih menyusun argumen untuk penurunan suku bunga, Warsh sekarang harus menghabiskan energinya untuk menghalau tekanan dari rekan kerja maupun publik yang meminta pengetatan kebijakan, atau setidaknya mempertahankan suku bunga," kata Derek Tang, ekonom di LH Meyer/Monetary Policy Analytics di Washington.

Memicu Inflasi

Terdapat faktor lain yang mengindikasikan bahwa kebijakan saat ini mungkin justru memicu inflasi, bukan meredamnya.

Kepala Ekonom AS Deutsche Bank, Matt Luzzetti, memperingatkan bahwa The Fed kemungkinan telah menurunkan suku bunga terlalu banyak pada 2024 dan 2025, sehingga kebijakan menjadi terlalu longgar. Kekhawatiran ini meningkat setiap kali inflasi naik karena hal itu menggeser level suku bunga netral—tingkat yang tidak membatasi maupun menstimulasi perekonomian.

"Jika Anda tidak melakukan apa-apa, Anda sedang melakukan pelonggaran," kata Fabio Natalucci, CEO Andersen Institute for Finance & Economics, yang merupakan mantan pegawai The Fed dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Sebagian besar pejabat The Fed menilai kebijakan saat ini berada di sekitar level netral atau sedikit di atasnya.

Ketegangan di internal The Fed diperkirakan memuncak pada pertemuan kebijakan bulan Juni mendatang. Pada rapat tersebut, para pejabat berpotensi menghapus bias pelonggaran dari pernyataan kebijakan mereka. Mereka juga akan menyerahkan proyeksi baru, yang kemungkinan mencakup perkiraan inflasi yang lebih tinggi dan menunda jadwal penurunan suku bunga di masa depan.

Salah satu contohnya adalah Gubernur The Fed Christopher Waller, yang sebelumnya mendorong penurunan suku bunga pada 2024 dan 2025. Kini, ia mendukung langkah untuk memperjelas bahwa tindakan suku bunga berikutnya memiliki peluang yang sama antara kenaikan atau penurunan.

"Kenyataannya adalah inflasi telah menjadi lebih membandel," kata Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG. "Warsh masuk ke dalam situasi di mana narasi ekonomi tengah berubah."

(bbn)

No more pages