“Jika tanpa itu tidak mungkin ada kesepakatan, mengapa harus ada kesepakatan tanpa itu?” kata Bessent dalam pengarahan di Gedung Putih. “Semuanya tergantung pada apa yang diinginkan presiden dan Presiden Trump tidak akan membuat kesepakatan buruk bagi rakyat Amerika, untuk AS.”
AS dan Iran telah menjalani gencatan senjata rapuh sejak awal April, meski sempat diwarnai sejumlah serangan militer terpisah. Axios melaporkan Trump meminta “beberapa hari” untuk mempertimbangkan isi kesepakatan tersebut.
Anggota parlemen Iran sekaligus anggota komisi keamanan nasional parlemen, Fada-Hossein Maleki, mengatakan negosiasi antara AS dan Iran menunjukkan “kemajuan signifikan”, menurut kantor berita semi-resmi Iranian Students’ News Agency (ISNA).
ISNA mengutip Maleki yang mengatakan AS masih harus memutuskan sejumlah syarat yang diajukan Iran, meski tidak merinci lebih lanjut.
Harga minyak memangkas penguatan dan diperdagangkan di kisaran US$95 per barel setelah sebelumnya naik akibat kedua pihak saling menuding melanggar gencatan senjata. Pasar saham dan obligasi juga menguat menyusul kabar tersebut.
Nota kesepahaman AS-Iran disebut akan menegaskan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz akan “bebas tanpa hambatan”, menurut laporan Axios. Iran juga diwajibkan membersihkan seluruh ranjau di selat tersebut dalam waktu 30 hari.
Bessent juga mengatakan tidak ada rencana bagi Oman untuk mengenakan tarif terhadap kapal yang melintasi jalur perairan strategis tersebut, sehari setelah Trump mengancam akan “menghancurkan mereka” jika sekutu lama AS itu mulai memungut biaya transit.
Menteri Keuangan AS itu mengatakan dirinya telah berbicara dengan duta besar Oman pada Kamis pagi dan mendapat jaminan bahwa “tidak ada rencana pemberlakuan tarif di selat tersebut”.
Perkembangan ini muncul setelah bentrokan semalam antara AS dan Iran, di mana kedua pihak saling mengecam atas dugaan pelanggaran gencatan senjata.
Pasukan AS menembak jatuh empat drone Iran yang diarahkan ke kapal komersial serta menyerang unit peluncur rudal di dekat Selat Hormuz, menurut seorang pejabat AS. Ia mengatakan serangan itu bersifat defensif dan gencatan senjata masih tetap berlaku. Sementara itu, media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa Iran menyerang pangkalan AS yang menjadi sumber serangan tersebut.
AS dan Kuwait juga menyatakan bahwa negara Teluk itu berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan Teheran ke arah wilayah Kuwait.
Penutupan efektif Selat Hormuz sejak perang pecah pada akhir Februari telah menghambat sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan inflasi global.
Departemen Keuangan AS mengatakan pihaknya mengambil tindakan terhadap Persian Gulf Strait Authority milik Iran dengan menuduh lembaga itu mencoba “memonetisasi kampanye terorisme yang disponsori negara dengan memeras kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz”.
Iran memperluas yurisdiksi yang mereka klaim di kawasan tersebut dan menerapkan aturan baru bagi kapal yang ingin melintas. Para pelaut kini harus berurusan dengan badan baru Iran itu dan dalam beberapa kasus menerima permintaan pembayaran hingga US$2 juta demi jaminan keselamatan pelayaran.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan 26 kapal komersial dan tanker minyak telah melintasi jalur perairan tersebut dalam 24 jam terakhir setelah memperoleh izin, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim yang mengutip pernyataan IRGC pada Kamis. Kapal-kapal yang mencoba memasuki Teluk Persia tanpa izin disebut dihentikan oleh angkatan laut Iran.
Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan hanya dua kapal yang terlihat memasuki Teluk Persia, sementara sebuah tanker bahan bakar asal China tampak berhenti di tengah perjalanan keluarnya.
Trump sendiri telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran dan meminta sekutu-sekutu AS membantu membuka kembali jalur pelayaran agar kapal komersial dapat kembali melintas dengan aman. Ia juga mengancam akan melanjutkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran, namun sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan.
Trump kini berada dalam posisi sulit di antara tuntutan Iran agar serangan dihentikan serta bantuan finansial diberikan, dan tekanan dari kelompok garis keras di AS yang ingin perang dilanjutkan atau setidaknya tidak menghasilkan kesepakatan yang dianggap lemah.
Situasi semakin rumit karena komentar Trump sendiri selama bertahun-tahun yang kerap mengecam pendahulunya akibat menandatangani atau mempertimbangkan kesepakatan yang mirip dengan skema yang saat ini dinilai paling mungkin berhasil.
Selain isu program nuklir Iran — yang selama ini disebut Trump sebagai alasan utama memulai perang — kedua pihak juga masih harus menyepakati berapa besar dari aset keuangan Iran senilai US$24 miliar yang akan dicairkan dan seberapa cepat prosesnya dilakukan. Pada Kamis, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan Teheran menuntut seluruh asetnya yang diblokir AS dibebaskan.
(bbn)































