Logo Bloomberg Technoz

"Ada asumsi kuat bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali dalam waktu dekat. Saya melihat pasar tengah bertaruh bahwa situasi permintaan dan penawaran global akan kembali seimbang serta kondisi mulai normal," ujar Bart Melek, Kepala Global Strategi Komoditas di TD Securities.

Pasar global saat ini bertaruh bahwa titik terburuk dari guncangan krisis energi di Timur Tengah telah terlewati. Sebelumnya, konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan telah mengganggu pasokan minyak mentah dunia, memicu kekhawatiran inflasi, hingga mendongkrak imbal hasil (yield) obligasi. Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memperpanjang gencatan senjata dinilai bakal melonggarkan tekanan di pasar minyak sekaligus menopang reli di pasar saham.

Meski demikian, sejumlah isu penting masih belum terselesaikan, termasuk masa depan program nuklir Iran. Kantor berita Tasnim melaporkan rancangan kesepakatan masih bisa gagal akibat keberatan AS terhadap beberapa poin, termasuk tuntutan Teheran agar aset yang dibekukan dicairkan.

“Kesepakatan telah dicapai dalam banyak topik yang dibahas, tetapi tidak ada yang bisa mengatakan bahwa penandatanganan perjanjian sudah dekat,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei kepada wartawan pada Senin.

Di perkembangan geopolitik lainnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov meminta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk mengevakuasi warga dan diplomat Amerika dari Kyiv menjelang apa yang disebut Moskow sebagai eskalasi serangan terhadap ibu kota Ukraina. Hal itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataan pada Senin.

Investor juga mencermati arah kebijakan moneter AS. Sinyal terbaru mengenai inflasi akan dirilis pekan ini melalui indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, data inflasi di Eropa juga akan menjadi petunjuk mengenai tekanan harga dan arah suku bunga ke depan.

(bbn)

No more pages