Dengan demikian, ketika rupiah melemah cukup tajam seperti sekarang, tekanan ke harga BBM nonsubsidi memang hampir tidak terhindarkan.
Sekadar catatan, kurs rupiah terhadap greenback pagi ini kembali bergerak melemah, berbanding terbalik dengan mata uang kawasan yang tersengat euforia penyelesaian damai antara AS dan Iran.
Per Senin (25/5/2026), rupiah melemah tipis 0,01% kala pembukaan perdagangan pasar spot ke Rp17.710/US$. Tak lama berselang, rupiah kembali tergelincir 0,14% ke posisi Rp17.733/US$ pada 09:15 WIB.
Meski sedikit tergelincir, posisi dolar AS sebenatnya masih bertahan di level tinggi tinggi dengan indeks terhadap enam mata uang utama di level 99. Sementara itu, harga minyak mentah Brent justru sudah lebih jinak dan berada di level US$98/barel.
Yusuf juga menjelaskan, secara kasar, setiap pelemahan kurs Rp100 terhadap dolar AS memiliki potensi mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi sekitar Rp60—Rp90 per liter; tergantung jenis produknya.
“Produk dengan oktan dan spesifikasi lebih tinggi seperti Pertamax Turbo atau Dex Series biasanya lebih sensitif dibandingkan dengan Pertamax [RON 92] biasa,” tambah dia.
Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, jika kurs rupiah tetap bertahan di area Rp17.600—17.700 per dolar AS menjelang periode evaluasi harga berikutnya, Yusuf menilai skenario yang paling realistis untuk BBM nonsubsidi Pertamax RON 92 kemungkinan naik masih di kisaran moderat, sekitar Rp800—Rp1.200 per liter.
Sementara itu, kenaikan langsung sebesar Rp1.500 atau lebih, baru akan terjadi jika terjadi dua hal sekaligus.
Pertama, rupiah kembali melemah lebih dalam mendekati Rp17.800/US$ atau lebih. Kedua, operator BBM memutuskan melakukan catch-up adjustment karena selama beberapa bulan terakhir harus menahan harga di bawah formula keekonominya.
“Untuk operator swasta seperti Shell, BP-AKR, atau Vivo, penyesuaian biasanya lebih cepat mengikuti formula pasar sehingga ruang kenaikannya relatif lebih besar. Untuk produk premium seperti Pertamax Turbo, Dex series, atau V-Power Diesel, kenaikan Rp1.500—2.000 memang jauh lebih realistis karena struktur biaya produknya lebih mahal dan sensitivitas terhadap kurs lebih tinggi,” jelas dia.
BBM Bersubsidi
Di sisi lain, kata Yusuf, hingga saat ini pemerintah masih menahan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Konsekuensi dari kebijakan ini menurutnya adalah, jika harga BBM nonsubsidi dinaikkan terlalu tinggi sekaligus, selisih harga antara Pertalite dan Pertamax akan melebar tajam.
Hal ini dapat mendorong migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi, yang akhirnya membebani kuota subsidi dan tekanan fiskal APBN.
“Karena itu saya melihat pemerintah dan Pertamina kemungkinan akan memilih jalur penyesuaian bertahap ketimbang satu kali lonjakan [kenaikan harga] besar,” ungkapnya.
Senada, analis komoditas dan founder Traderindo Wahyu Laksono melihat adanya potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi sebesar Rp1.500—Rp2.000 per liter secara realistis pada bulan depan.
“Ketika kurs melonjak ke rentang Rp17.600—Rp17.700, biaya pengadaan atau import parity price per barel minyak matang otomatis membumbung tinggi saat dikonversi ke rupiah. Selisih kurs sekitar Rp1.000—Rp1.500 dari basis perhitungan normal saja sudah bisa mengerek harga eceran BBM non-subsidi di atas Rp1.500/liter,” jelasnya.
Dia menambahkan, jika komponen harga minyak mentah dunia (Brent atau WTI) pada saat bersamaan ikut bertahan di level tinggi, tekanan tersebut menjadi berlipat ganda (double hit).
Produk yang paling sensitif mengalami kenaikan adalah seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, atau Dexlite—yang memiliki nilai oktan dan setana tinggi dengan komponen impor dominan.
“Jenis di atas bisa mengalami penyesuaian di batas atas proyeksi tersebut, mendekati Rp2.000 atau lebih. Sementara itu, untuk Pertamax, penyesuaian minimal biasanya akan berada di kisaran Rp1.200—Rp1.500 per liter jika menggunakan hitungan keekonomian murni,” jelasnya.
(wdh)





























