Target yang nyata ini menempatkan Standard Chartered di barisan terdepan perusahaan keuangan yang mencari efisiensi teknologi.
HSBC Holdings Plc sedang mempertimbangkan pemangkasan pekerjaan besar-besaran dalam beberapa tahun mendatang, sementara perusahaan-perusahaan Wall Street juga melakukan hal serupa.
Presiden dan COO Goldman Sachs Group Inc., John Waldron, baru-baru ini menggambarkan operasi tradisional perusahaannya sebagai “jalur perakitan manusia” yang siap untuk otomatisasi.
Walau janji-janji semacam itu semakin menyeruak, ada yang mempertanyakan apakah perusahaan-perusahaan hanya menyamarkan pemangkasan biaya yang sudah ketinggalan zaman sebagai “AI-washing”. Para ahli di bidang otomatisasi tempat kerja mengatakan bahwa alat-alat AI belum mencapai tahap di mana mereka menyebabkan pemangkasan signifikan di pasar tenaga kerja.
Pengumuman tersebut muncul saat Standard Chartered memulai pertemuan investor dan analis di Hong Kong pada hari Selasa. Winters dan tim manajemennya memaparkan kerangka keuangan jangka menengah, inisiatif pertumbuhan, dan prioritas strategis bank tersebut.
Seiring dengan restrukturisasi berbasis AI dan perombakan manajemen senior baru-baru ini, bank tersebut mengumumkan target pengembalian baru. Standard Chartered menargetkan peningkatan 3 poin persentase dalam return on tangible equity, dengan target lebih dari 15% pada 2028 dan sekitar 18% pada 2030. Bank tersebut juga berharap dapat meningkatkan rasio biaya terhadap pendapatan menjadi 57% pada 2028.
Kebijakan PHK akan mendorong peningkatan produktivitas guna menaikkan pendapatan per karyawan sekitar 20% pada tahun 2028, menurut bank tersebut.
“Kami tidak mengalami pengurangan karyawan, tetapi kami melakukan pengurangan peran pekerjaan demi penggunaan mesin, dan hal itu akan semakin cepat seiring kami melangkah ke era AI,” kata Winters.
Bersiap untuk Bertumbuh
Bank ini mengadakan pertemuan dengan para investor setelah laba mencapai rekor dan dengan mudah melampaui perkiraan analis, didukung oleh rekor arus dana baru bersih US$18 miliar ke bisnis wealth. Hal itu membantu meredam dampak dari US$190 juta “penyesuaian manajemen pencegahan” yang disisihkan untuk mengatasi risiko yang timbul dari konflik di Timur Tengah.
Program restrukturisasi yang mereka namakan “Fit for Growth” hampir selesai. Inisiatif ini dirancang untuk merampingkan operasi dan menghasilkan penghematan US$1,5 miliar, terdiri dari ratusan proyek individu dengan target mulai dari penyesuaian operasional kecil hingga perombakan bernilai jutaan dolar.
Setelah melonjak hampir 120% antara awal April 2025 dan awal Februari tahun ini, reli saham mengalami kemunduran, pertama dari kepergian mendadak CFO Diego De Giorgi, dan kemudian dari pecahnya konflik di Timur Tengah. Sejak itu, saham tersebut telah pulih secara signifikan.
De Giorgi, yang pernah berkarier di Bank of America Corp. dan Goldman Sachs Group Inc., secara luas dianggap sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan Winters kelak. Lembaga keuangan tersebut pada awal pekan ini menunjuk Manus Costello sebagai CFO barunya. Costello direkrut pada tahun 2024 sebagai kepala hubungan investor global.
(bbn)






























