Sementara penerimaan yang berasal dari bea masuk di sepanjang Januari hingga April mencapai Rp16,4 triliun atau naik sekitar 6,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang didorong oleh peningkatan bea masuk dari komoditas LPG dan kebutuhan proyek
“Jadi memang ada perbaikan di aktivitas ekspor, impor, dan yang lain-lain,” kata Purbaya.
Meski demikian, pendapatan yang berasal dari bea keluar terkontraksi 17,5% (yoy) menjadi Rp9,3 triliun di sepanajang Januari hingga April 2026. Kementerian Keuangan berdalih, meski terdapat penurunan, namun mulai mengalami perbaikan seiring penguatan harga CPO di bulan Maret dan April 2026.
Sebagai informasi, Kementerian Keuangan mengumumkan realisasi pendapatan negara hingga 30 April 2026 mencapai Rp918,4 triliun atau naik 13,3% (yoy) dibanding realisasi penerimaan negara pada periode yang sama tahun lalu.
Purbaya menjelaskan pendapatan ini ditopang oleh penerimaan perpajakan mencapai Rp746,9 triliun atau naik 13,7% dengan didominasi oleh penerimaan pajak Rp646,3% atau tumbuh 16,1%. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp100,6 triliun.
Kemudian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh 11,6% atau Rp171,3 triliun yoy. Sementara penerimaan hibah sebanyak 0,3 triliun atau tumbuh 28,8%.
(ell)



























