Lebih lanjut, ia menjelaskan virus Ebola memiliki karakteristik berbeda dibandingkan Covid-19. Ebola, kata dia, tidak menular melalui udara bebas seperti SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, melainkan membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh penderita sehingga laju transmisinya relatif lebih lambat.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang meningkatkan risiko penyebaran Ebola saat ini, antara lain tingginya mobilitas internasional, urbanisasi di kawasan Afrika, hingga konflik bersenjata yang menghambat proses isolasi dan pengendalian wabah. Selain itu, beberapa kasus lintas negara juga telah dilaporkan dalam wabah Ebola sebelumnya.
Menurut Dicky, risiko masuknya Ebola ke Indonesia terutama dapat terjadi melalui penerbangan internasional transit, pekerja migran, pelaut, pelaku perjalanan bisnis, maupun kasus impor yang tidak terdeteksi di pintu masuk negara. Namun, probabilitas terjadinya transmisi luas di Indonesia dinilai jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19 maupun influenza.
“Ebola perlu kontak yang intens, dekat, dan adanya paparan cairan tubuh. Kalau cepat terdeteksi dan responsnya cepat, outbreak biasanya lebih mudah dilokalisasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan global terkait strain Ebola tertentu seperti Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin berlisensi luas. Karena itu, menurut dia, kewaspadaan dini dan kesiapan sistem kesehatan tetap harus diperkuat untuk mencegah potensi penyebaran lintas negara.
(dec/del)






















