VLCC tersebut berlayar keluar dari Teluk Persia sepekan lalu, melewati Selat Hormuz yang diblokade Iran, dan berupaya memasuki Laut Arab.
Namun ketika mendekati garis blokade angkatan laut AS, kapal tanker itu berbalik arah menuju Teluk Oman, menurut data pelacakan kapal.
Komando Pusat AS saat itu mengatakan kapal tersebut diputarbalikkan untuk menegakkan blokade.
Pembeli muatan tersebut, PetroVietnam Oil Corp., yang merupakan unit perdagangan perusahaan energi nasional Vietnam, pekan lalu mengirim surat permohonan kepada AS agar kapal tanker itu dibebaskan.
“Muatan ini sangat penting bagi Kilang Nghi Son, Republik Sosialis Vietnam, dan rakyat Vietnam,” demikian isi surat yang dilihat Bloomberg News.
“Penundaan lebih lanjut berisiko menghentikan operasi kilang, dengan dampak berantai terhadap jutaan konsumen, bisnis, layanan publik, dan industri di Vietnam.”
Perjalanan kapal tersebut terjadi setelah pertemuan puncak dua hari antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, di mana keduanya sepakat bahwa selat tersebut harus tetap terbuka, meski belum terlihat kemajuan nyata menuju tujuan tersebut.
Lalu lintas pelayaran di jalur perairan itu masih jauh di bawah level sebelum perang, meskipun ada sedikit peningkatan dalam beberapa hari terakhir seiring sejumlah kapal tanker minyak mentah keluar dari Teluk Persia.
(bbn)



























