MTZ meyakinkan bahwa semua alat berat dan mesin bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemesan. Selain itu, MTZ juga menawarkan pelatihan dan transfer teknologi untuk mendukung kerjasama tersebut. Pertemuan dengan KADIN juga telah dilakukan untuk melakukan pembicaraan awal mengenai kerja sama di industri alat berat.
Sementara itu, kunjungan ke MAZ (Minsk Automobile Plant) difokuskan pada potensi kerja sama pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan khusus industri, termasuk peluang local assembly, transfer teknologi, dan pengembangan kendaraan rendah emisi.
Adapun pada kunjungan ke BelAZ Holding Company, kedua pihak membahas potensi penguatan kerja sama di sektor alat berat pertambangan, termasuk pengembangan maintenance ecosystem, local assembly, serta peluang kerjasama rantai pasok ban kendaraan berat berbasis natural rubber Indonesia.
“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” ujar Menko Airlangga dalam keterangangan tertulis, Jumat (15/05/2026).
Dalam diskusi lebih lanjut, turut dibahas mengenai pengembangan cassava menjadi etanol dan studi terkait penggunaan baterai nikel untuk mendukung modernisasi pertanian.
Di sektor pertambangan, penggunaan baterai nikel pada truk telah diaplikasikan untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan, dan kinerja kendaraan berat di sektor industri serta pertambangan. Indonesia sendiri mengekspor sekitar 800 juta ton batubara setiap tahunnya, sehingga kebutuhan dump truck untuk pertambangan yang efisien dan berkelanjutan menjadi prioritas yang penting.
Pemerintah Belarus selama ini terus mempelajari berbagai kebutuhan alat berat di Indonesia, namun informasi mengenai kebutuhan spesifik dari Indonesia masih relatif sulit didapatkan. Untuk mengatasi ini, perlu dilakukan pemetaan kebutuhan secara bersama, forum konsultasi reguler, serta peningkatan komunikasi antara pelaku industri dan pemerintah kedua negara. Langkah ini akan membantu memastikan bahwa produk dan solusi yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Kunjungan ke toga industri utama Belarus ini akan dapat memperkuat tindak lanjut hasil-hasil Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus, serta menjadi langkah penting dalam persiapan rencana kunjungan Presiden Belarusia ke Indonesia di masa mendatang.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya yakni Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, perwakilan Kementerian/ Lembaga terkait, serta perwakilan KADIN dan APINDO.
(dhf)





























