Kekhawatiran terhadap independensi The Fed menjadi salah satu faktor utama yang mendorong emas mencetak rekor tertinggi pada Januari lalu.
Menambah tekanan, indeks harga konsumen AS naik 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya, tertinggi sejak 2023, menurut data yang dirilis Selasa.
Harga bensin melonjak sekitar 50% sejak perang Iran dimulai, berdasarkan data American Automobile Association, sementara laporan terbaru Bureau of Labor Statistics menunjukkan kenaikan harga tiket pesawat, perumahan, pakaian, dan makanan.
Emas bergerak dalam kisaran sempit sejak anjlok tajam pada awal perang Iran, ketika investor bergantian mempertimbangkan risiko inflasi yang dapat membuat suku bunga tetap tinggi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi yang dapat mendorong pelonggaran kebijakan apabila konflik berkepanjangan.
Pasar kini mencoba membaca peluang berakhirnya konflik di Timur Tengah dan pembukaan penuh kembali Selat Hormuz, kata Nicholas Frappell, kepala pasar institusional global di ABC Refinery.
Menurutnya, emas akan mendapat dorongan dari pelemahan dolar AS dan kebijakan pengetatan moneter yang lebih lunak dari bank sentral jika selat tersebut kembali dibuka.
Sementara itu, perak telah melonjak 18% sepanjang Mei. Kenaikan tersebut lebih didorong aktivitas spekulan di tengah kondisi likuiditas rendah ketimbang faktor fundamental, kata Nicky Shiels, kepala riset dan strategi logam di trader MKS PAMP SA, dalam sebuah catatan.
Reli tembaga baru-baru ini dan kekhawatiran pasokan turut menopang lonjakan harga perak, tambahnya. Perak, seng, dan tembaga menunjukkan sinyal tren yang kuat, “dengan posisi yang meningkat secara mekanis tanpa membutuhkan momentum baru.”
Harga emas spot naik 0,1% menjadi US$4.693,33 per ons pada pukul 10:00 pagi waktu London. Harga perak turun 0,6% menjadi US$86,97 per ons. Platinum dan paladium melemah. Indeks Bloomberg Dollar Spot bergerak datar.
(bbn)

























