Namun untuk tenor panjang lainnya, tekanan kembali meningkat cukup tajam. Tenor 11 tahun naik 2,7 bps ke 6,740%, tenor 12 tahun melonjak 4,1 bps menjadi 6,830%, kenaikan terbesar hari ini, disusul tenor 13 tahun yang naik 2,9 bps ke 6,843%.
Lebih lanjut, yield tenor 15 tahun juga tercatat naik 1,5 bps menjadi 6,857%, tenor 16 tahun bertambah 2,8 bps menjadi 6,828%, tenor 18 tahun naik 2,3 bps ke 6,903%, tenor 20 tahun meningkat 1,6 bps menjadi 6,845%, tenor 30 tahun naik 0,4 bps ke 6,913%, dan tenor 40 tahun menguat 3,1 bps menjadi 6,902%.
Kenaikan yield ini mengindikasikan bahwa investor mulai melepas kepemilikannya di pasar obligasi domestik, atau setidaknya meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi untuk tetap bertahan di pasar Indonesia.
Faktor Penekan
Aksi jual di pasar SUN hari ini menggambarkan adanya keraguan investor terhadap daya tahan fiskal Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel menciptakan kekhawatiran baru terhadap APBN.
Indonesia masih rentan terhadap kenaikan impor energi dan tekanan subsidi. Sebab, Indonesia memiliki struktur subsidi yang rentan terhadap kenaikan harga minyak.
Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi kebutuhan belanja untuk berbagai program prioritas yang memakan anggaran jumbo.
Masalahnya, ruang fiskal Indonesia tidak lagi seleluasa beberapa tahun lalu. Defisit anggaran dibatasi maksimal 3% terhadap PDB, sementara penerimaan negara belum cukup kuat menopang ekspansi fiskal agresif.
Sebagai catatan, defisit kuartal I-2026 sudah tercatat mencapai Rp240 triliun.
Pasar sepertinya mulai khawatir pemerintah akan menghadapi trade-off sulit antara menjaga disiplin fiskal atau mempertahankan program belanja besar.
Tekanan ganda terhadap APBN yang berasal dari subsidi yang diperkirakan membengkak juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Sementara, penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif. Terlebih, ada penundaan rencana terkait kenaikan royalti produk tambang hingga waktu yang belum ditentukan.
Selain itu, investor global mulai meningkatkan persepsi risiko terhadap aset Indonesia secara keseluruhan. Pelemahan rupiah, arus keluar dana asing di pasar saham pasca rebalancing MSCI, dan meningkatnya tensi geopolitik global membuat investor cenderung mengambil posisi defensif.
Di pasar saham hari ini, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp900 miliar. Analis memperkirakan arus keluar dana asing dari pasar saham akibat rebalancing indeks MSCI ini, bisa mencapai US$2 miliar atau setara dengan Rp31,5 triliun.
Sementara, di pasar obligasi arus modal keluar telah tercatat sebesar US$46,7 juta secara harian, dan US$135 juta secara mingguan per tanggal 8 Mei 2026.
Meski pasar obligasi cenderung lebih kalem daripada pasar saham, namun pasar obligasi kerap jadi indikator yang paling jujur terhadap kondisi perekonomian negara. Hari ini, tampaknya pasar obligasi sedang berkirim sinyal, bahwa kepercayaan investor mulai menipis, sementara risiko fiskal dan tekanan eksternal terus menebal.
(dsp)



























