Logo Bloomberg Technoz

Kondisi tersebut, kata Rachmat, memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi tembaga demi mengimbangi kebutuhan permintaan tembaga global.

Surplus Katoda

Dia menyatakan, mulai 2027, Indonesia bakal memproduksi katoda tembaga sekitar 1,2 juta ton per tahun. Namun, serapan dari pasar domestik diperkirakan baru mencapai 20%—25% dari total produksi tersebut.

Dengan begitu, dia memprediksi terdapat potensi surplus sekitar 700.000—800.000 ton katoda tembaga di dalam negeri yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan industri tembaga menjadi lebih hilir lagi.

“Jadi sisa sekitar 700.000—800.000 ton katoda tembaga masih tersedia, yang berarti menjadi peluang bagi industri hilir tembaga di Indonesia,” tegas dia.

Dia menambahkan kenaikan permintaan tembaga diprediksi berasal dari pengembangan energi bersih, transportasi, hingga pembangunan infrastruktur kelistrikan.

Sekadar informasi, harga tembaga naik sekitar 10% sejak akhir 2025, dan terdapat banyak pandangan bullish di pertemuan besar para pelaku pasar logam di Hong Kong pekan lalu.

Pergerakan harga tembaga LME./dok. Bloomberg

Logam industri ini juga mendapat dorongan dari ekspor China yang kuat—angka utama April naik 14% dari tahun sebelumnya—termasuk pengiriman barang-barang teknologi bersih yang melonjak, yang cenderung padat tembaga.

Permintaan tembaga yang merupakan logam penting untuk transisi energi dan pertahanan, ditambah dengan kendala pasokan, akan memperkuat ketahanan komoditas tersebut dalam skenario terburuk yang melibatkan penutupan berkepanjangan Selat Hormuz, menurut analis Citigroup Inc

Para trader juga memantau gangguan pasar di China, di mana tindakan keras regulasi terhadap bentuk pembiayaan berbasis logam telah memicu gejolak bagi beberapa perusahaan.

Masalah ini telah membatasi pasokan limbah logam, sehingga memperkecil selisih diskon biasa antara harga limbah dan tembaga murni, kata Jia frp dari Harmony-Win Capital.

Sebagai catatan, di London Metal Exchange (LME) hari ini, tembaga diperdagangkan di harga US$14.021/ton atau naik tipis sekitar 0,56% dari penutupan kemarin.

Adapun, PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah mencari pembeli atau offtaker katoda tembaga domestik untuk meningkatkan serapan di dalam negeri.

SVP Government Relation PT Freeport Indonesia Harry Pancasakti mengatakan sebagian besar produksi katoda tembaga PTFI mesti diekspor lantaran minimnya komitmen pembelian domestik.

Menurut hitung-hitungan Harry, sebagian besar katoda tembaga PTFI dijual untuk sejumlah buyer di Malaysia, Thailand dan Vietnam. Menurut dia, komitmen pembelian katoda domestik kurang dari separuh dari kapasitas terpasang smelter tembaga PTFI saat ini sekitar 800.000 ton.

“Kurang dari 50% yang diserap [di dalam negeri], sisanya diekspor, dan sayangnya ekspor ini tidak jauh-jauh, dari data yang kita pelajari mayoritas pembeli di luar negeri berasal dari negara tetangga, Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” kata Harry di Minerba Expo 2025, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Menurut Harry, kapasitas industri domestik untuk menyerap katoda tembaga berada di kisaran 500.000-600.000 ton per tahun.

Hanya saja, dia menambahkan, realisasi serapan industri pengguna tembaga masih jauh di bawah kapasitas yang diperkirakan.

(azr/wdh)

No more pages