Rupiah Tembus Rp17.500/US$, Benarkah Hanya Karena Musim Dividen?
Cahya Puteri Abdi Rabbi
12 May 2026 17:35

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar Rupiah terus mengalami pelemahan hingga pada perdagangan Selasa (12/5/2026), Rupiah ditutup melemah 0,51% di Rp17.500/US$. Angka ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah.
Pada saat yang sama, net sell di bursa saham hingga penutupan sore ini mencapai Rp751 miliar. Angka ini membuat net sell terakumulasi hingga Rp38,36 triliun. Dana asing yang keluar (outflow) ini turut berkontribusi pada tekanan rupiah terhadap dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) beberapa waktu lalu mengaitkan pelemahan Rupiah dengan musim pembagian dividen emiten untuk tahun buku 2025. Hal ini selalu terjadi tiap tahun, di mana secara historis setiap kuartal kedua identik dengan meningkatnya kebutuhan dolar AS akibat sejumlah faktor seperti pembayaran utang luar negeri dan pembayaran dividen.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkap hal senada. Penyebab rupiah terdepresiasi adalah karena meningkatnya kebutuhan dolar AS secara musiman, seperti pembayaran utang luar negeri dan pembayaran dividen perusahaan. Selain itu, terdapat kebutuhan untuk ibadah haji yang mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Dari sisi eksternal, konflik di Timur Tengah masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat, sehingga mendorong naiknya harga minyak dunia serta meningkatkan ketidakpastian global.




























