Logo Bloomberg Technoz

Rupiah menutup perdagangan hari ini, Selasa (12/5/2026), dengan pelemahan 0,51% di Rp17.500/US$. Ini merupakan posisi penutupan terlemah dalam sejarah.

Dalam sesi perdagangan tadi siang, rupiah sempat menyentuh Rp17.511/US$, tertekan berbagai sentimen domestik dan faktor eksternal. 

Tekanan eksternal masih menjadi pemicu utama pelemahan mata uang di pasar negara berkembang, termasuk rupiah.

Ketidakpastian arah konflik Timur Tengah setelah gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali mendorong harga minyak dunia bertahan tinggi di atas US$100 per barel.

Kondisi ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global dan potensi suku bunga tinggi bertahan lebih lama di AS.

Puan sebelumnya memastikan akan memanggil Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk meminta penjelasan terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi hari ini."Ya tentu saja kami [DPR] akan meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada untuk mengantisipasi hal [pelemahan rupiah] tersebut," ujar Puan usai memimpin Sidang Paripurna di Gedung DPR RI, Selasa (12/5/2026.)

Dia mengingatkan agar jangan sampai depresiasi rupiah ini mempengaruhi ekonomi nasional secara keseluruhan, bahkan bisa membuat Indonesia menjadi terpuruk. 

"Apa yang dilakukan pemerintah, termasuk BI, situasi ini jangan sampai pengaruh nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk. Jadi harus diantisipasi sejak awal. Bukan hanya tahun ini, tapi juga sampai tahun 2027," kata dia. 

Dia menambahkan, DPR juga akan memasukkan pembahasan kondisi pelemahan rupiah ini ke dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, yang akan menjadi landasan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan.

"Karenanya, itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang," tutur dia.

(lav)

No more pages