Logo Bloomberg Technoz

"Nah kita banyak sekali dengar masalah LPG yang meledak, yang leaking, dan lain sebagainya. Jadi kalau kita di sektor migas tuh enggak pernah ada yang bilang CNG itu lebih aman daripada LPG, itu enggak ada. Kenapa? Karena kenyataannya memang berisiko tinggi makanya yang memakai CNG itu adalah industri,” tegas dia.

Saluran bahan bakar CNG terpasang pada truk selama operasi pengisian bahan bakar di Montgomery County Fleet Management Services, AS./Bloomberg

Utamakan Keamanan

Senada, ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menekankan pengembangan tabung CNG 3 kg perlu mengedepankan aspek keamanan, alih-alih hanya mengejar target belaka.

Fahmy memprediksi pengembangan tabung CNG 3 kg bakal memakan waktu hingga satu tahun, sebelum nantinya dapat diuji coba oleh masyarakat.

“Harus menjamin adanya suatu keamanan; misalnya dengan standar zero accident. Barangkali kalau [uji coba] 3 bulan itu terlalu cepat. Ya mungkin 6 bulan sampai setahun sampai menghasilkan CNG yang itu benar-benar aman untuk dikonsumsi khususnya untuk di rumah tangga,” kata Fahmy ketika dihubungi.

Berbeda pendapat dengan Moshe, Fahmy tetapi meyakini masifikasi pemanfaatan CNG melalui pengembangan LPG 3 kg tidak bakal serumit program konversi kompor minyak tanah ke LPG yang dilakukan beberapa tahun lalu.

Alasannya, kata dia, CNG dapat langsung digunakan pada kompor LPG yang dimiliki masyarakat. Tidak seperti minyak tanah, yang kompornya harus disesuaikan terlebih dahulu.

“Karena minyak tanah itu kompornya beda. Kemudian juga yang digunakan itu beda antara minyak tanah dengan gas itu kan beda sekali. Akan tetapi, kalau LPG dengan CNG dalam tabung itu ya mirip, sangat mirip,” ungkap Fahmy.

Berdasarkan arsip Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), program konversi minyak tanah ke LPG dilakukan sejak 2007. Kala itu, pemerintah mendistribusikan 42 juta paket konversi kepada rumah tangga yang berhak.

Pemerintah pada 2008 menarik sekitar 2 juta kiloliter (kl) minyak tanah dan hingga akhir 2028, sudah terdapat 19 juta paket konversi yang diserahkan.

Lalu, pada 2009 penarikan minyak tanah dicanangkan sebesar 4,1 juta kl dan pembagian paket perdana sebesar 23 juta. Pada 2010, LPG ditargetkan menjadi bahan bakar utama dengan estimasi volume 3,5 juta ton per tahun.

Pada tahun yang sama, 6 juta kl minyak tanah ditargetkan ditarik dari peredaran sehingga hanya tersisa sebesar 3,9 juta kl.

Kementerian ESDM kini sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass—untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan dalam waktu tiga bulan ke depan bakal dilakukan uji coba pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg.

Usai uji coba rampung, produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat untuk konversi penggunaan LPG 3 kg.

Di sisi lain, Laode juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.

Dia memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.

“Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,” kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun mengklaim pemanfaatan CNG 3 kg untuk menyubstitusi penggunaan LPG 3 kg dapat menghemat devisa hingga Rp137 triliun per tahun.

Selain menghemat devisa, Bahlil mengklaim harga CNG 3 kg bakal lebih murah dibandingkan dengan penggunaan LPG 3 kg. Walhasil, dia yakin subsidi yang digelontorkan pemerintah juga bisa lebih rendah.

(azr/wdh)

No more pages