Sebelum itu, Roberth sempat menanggapi soal harga asli Pertalite tanpa adanya subsidi sudah menembus sekitar Rp16.088/liter.
Dia menjelaskan Pertalite ditetapkan oleh pemerintah sebagai bensin Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP). Sementara itu, Pertamax merupakan Jenis BBM Umum (JBU) yang tidak diberikan subsidi karena harganya mengikuti harga pasar.
Kendati demikian, Roberth menyatakan PPN setelah berkoordinasi dengan pemerintah dan memutuskan untuk menahan harga Pertamax sejak 1 April 2026.
“Kenapa? Karena Pertamax ada untuk digunakan juga bagi masyarakat [kelas] menengah yang mampu. Sementara itu, Turbo dan lain-lain adalah untuk yang menengah ke atas,” kata Robeth melalui pesan singkat, Jumat (8/5/2026).
Dengan demikian, dia menyatakan harga keekonomian Pertamax sebenarnya akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi, yaitu sebesar Rp16.088/liter.
“Harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah di dalamnya dan juga Pertamina,” kata Roberth
Dia mencontohkan, ketika harga Pertamax Turbo masih sekitar Rp13.100/liter, harga Pertamax berada di Rp12.300/liter. Dengan kata lain, ketika saat ini harga Pertamax Turbo tembus Rp19.900/liter, seharusnya harga asli Pertamax berada di kisaran tersebut.
“Pada saat Pertamax harga Rp12.300, maka [Pertamax] Turbo di harga Rp13.100. Selisihnya tipis,” tegas Roberth.
Sekadar informasi, Pertamina terpantau menaikkan harga sebagian besar BBM nonsubsidi miliknya pada Senin (4/5/2026).
Hal ini dilakukan setelah perusahaan pelat merah negara tidak melakukan penyesuaian harga bulanan pada jadwal rutin awal bulan yang dilansir Jumat (1/5/2026).
Dalam hal ini, harga Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp19.900/liter. Angka ini naik Rp500 dibandingkan dengan harga yang sebelumnya diumumkan pada 1 Mei yaitu Rp19.400/liter.
Untuk harga BBM jenis Solar nonsubsidi, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, sama-sama mengalami penyesuaian harga.
Harga Dexlite dipatok Rp26.000/liter, naik Rp2.400 dibandingkan dengan harga sebelumnya Rp23.600/liter di Jabodetabek. Sementara itu, Pertamina Dex dipatok Rp27.900/liter, naik Rp4.000 dibandingkan dengan harga sebelumnya Rp23.900/liter di Jabodetabek.
Di lain sisi, harga Pertamax (RON 92) tetap Rp12.300/liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) juga tetap Rp12.900/liter.
Dalam keterangannya kala itu, Roberth menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari mekanisme pasar yang mengikuti perkembangan harga global.
"Penyesuaian ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi berkala yang mengacu pada mekanisme keekonomian, dengan mempertimbangkan dinamika harga minyak mentah dunia, harga produk olahan di pasar internasional, serta fluktuasi nilai tukar rupiah," ujar Roberth dalam siaran pers, Senin (4/5/2026).
Untuk diketahui, per kuartal I-2026, Kementerian Keuangan melaporkan belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp118,7 triliun, melonjak 266,5% secara year on year (yoy), seiring dengan perubahan skema pencairan kompensasi ke Pertamina dan PLN dengan skema bulanan.
Perinciannya, belanja subsidi energi kuartal pertama tahun ini mencapai senilai Rp52,2 triliun, sedangkan kompensasi Rp66,5 triliun.
Adapun, anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 dipagu senilai Rp381,3 triliun untuk bahan bakar minyak (BBM), gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg, dan listrik.
(wdh)
































