Meski demikian, saat ditanya mengenai peluang solusi diplomatik, Trump menjawab hal itu "sangat mungkin terjadi." Pemimpin AS itu juga mengulangi klaimnya tanpa bukti bahwa para pemimpin Iran "berniat memberikan kita debu nuklir."
Sejauh ini, tidak ada indikasi publik bahwa Teheran akan mundur, termasuk dalam kegigihan mereka mempertahankan program nuklirnya.
Perkembangan ini menandai kegagalan terbaru Trump dalam merancang resolusi untuk perang yang telah berlangsung selama 10 minggu tersebut. Konflik ini telah memicu krisis energi global dan terus menimbulkan risiko politik domestik yang besar bagi Trump dan Partai Republik. Perang ini juga meregangkan hubungan dengan China, di mana Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing akhir pekan ini.
“Sama sekali tidak ada tekanan,” tegas Trump pada hari Senin. “Kami akan meraih kemenangan sepenuhnya.”
Akibat pernyataan Trump tersebut, harga minyak melonjak dengan minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$104 per barel. Pemerintah AS kini tengah mempertimbangkan langkah terakhir untuk meringankan beban konsumen akibat kenaikan biaya energi, termasuk dukungan Trump terhadap kebijakan penghapusan sementara pajak bensin.
Teheran juga bersikeras bahwa kesepakatan apa pun harus menghasilkan pengakhiran perang segera, termasuk di Lebanon, di mana Israel melancarkan perang paralel melawan kelompok Hizbullah. Konflik ini telah menewaskan ribuan orang di Timur Tengah dan mengacaukan pasar minyak serta gas.
Laporan Axios menyebutkan bahwa Trump bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pada hari Senin untuk membahas perang, termasuk kemungkinan dimulainya kembali aksi militer.
Hingga kini, Selat Hormuz masih terblokade sebagian besar. Iran dan negara-negara Teluk Persia lainnya tidak dapat mengekspor pasokan energi melalui jalur yang biasanya mengalirkan seperlima minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang.
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran telah mengerahkan kapal selam kerdil kelas Ghadir di Teluk Persia untuk bertindak sebagai "penjaga tak kasat mata" di Hormuz. Model buatan dalam negeri ini mampu menembakkan rudal jelajah anti-kapal, yang menambah kekhawatiran para pemilik kapal untuk melintasi titik sempit tersebut.
Pada hari Senin, sebuah kapal tanker pengangkut LNG dari Qatar tampak berbalik arah dari selat, meski beberapa kapal lain, termasuk kapal milik Qatar, berhasil lolos.
Angkatan Laut AS menghadapi biaya tambahan jutaan dolar setiap kali mengirim salah satu kapal perusaknya melalui jalur perairan tersebut. Perjalanan itu dianggap sangat berisiko sehingga membutuhkan tindakan pengawasan tambahan serta dukungan dari jet tempur dan helikopter.
Kegagalan untuk mencapai kerangka dasar diskusi antara Washington dan Teheran mengancam prospek negosiasi masa depan mengenai pembatasan program nuklir Iran—tujuan utama dari kampanye militer AS-Israel.
Trump sebelumnya mengusulkan agar Iran mengizinkan pelayaran melewati Hormuz sementara Washington mengakhiri blokade pelabuhan Iran, yang kemudian akan dilanjutkan dengan pembicaraan nuklir. Namun, tuntutan Iran lainnya mencakup pelepasan aset mereka yang dibekukan dan pencabutan sanksi AS atas penjualan minyak.
Media pemerintah Iran, IRIB News, mendeskripsikan rencana Trump sebagai bentuk "penyerahan diri" dan menyatakan bahwa AS juga harus membayar kerugian perang.
(bbn)




























