Logo Bloomberg Technoz

Para investor menilai bahwa wajar jika Alphabet pada akhirnya akan merebut gelar sebagai perusahaan terbesar di dunia, karena jaringannya menjangkau begitu banyak sektor penting dalam industri teknologi dan bidang AI. 

Sementara, Nvidia mungkin menjadi pemimpin dalam pengembangan chip AI, namun demikian Alphabet memiliki produk pesaing yang semakin populer. Perusahaan juga memiliki sejumlah bisnis besar seperti Google Search, Google Cloud, YouTube, dan Waymo.

Selain itu, model AI Gemini milik Alphabet dianggap sebagai salah satu yang terbaik di industri ini, dan perusahaan merupakan investor besar di Anthropic, yang memiliki model terkemuka lainnya, yaitu Claude. 

“Nvidia adalah perusahaan hebat, tetapi berpotensi menjadi jauh lebih siklikal jika pengeluaran AI melambat. Alphabet sangat terdiversifikasi sehingga jika satu bisnis goyah, yang lain dapat menambal kekosongan. Anda tidak akan menemukan parit kompetitif yang lebih luas daripada yang dimiliki Alphabet, dan sepertinya perusahaan ini terbesar era internet. Jadi masuk akal jika ia menjadi yang terbesar,” kata O’Neill. 

Alphabet adalah saham terbesar di pasar pada awal 2016 ketika untuk sementara waktu melampaui Apple. Per Jumat, kapitalisasi pasar Apple adalah US$4,3 triliun, diikuti oleh Microsoft Corp. sebesar US$3,1 triliun dan Amazon.com Inc. sebesar US$2,9 triliun.

Pada laporan keuangan terbaru lantas menunjukkan bagaimana Alphabet muncul sebagai pemenang yang menonjol di antara perusahaan-perusahaan Big Tech. Bukan hanya mencatatkan pertumbuhan lebih baik dari perkiraan di bisnis pencarian dan cloud-nya, tetapi chip AI Tensor Processing Unit (TPU) milik perusahaan tersebut telah menjadi daya tarik utama bagi pelanggan. Deretan chip tersebut akan segera tersedia bagi klien Google Cloud untuk dijalankan di pusat data mereka sendiri, kata CEO Sundar Pichai.

Alphabet diperkirakan akan menghasilkan sekitar US$3 miliar pendapatan dari infrastruktur terkait TPU pada tahun 2026 dan US$25 miliar pada tahun 2027, tulis analis Citizens, Andrew Boone, dalam catatan kepada klien pada 5 Mei.

‘Apapun yang kau inginkan’

“Alphabet memiliki segala yang diinginkan, dan ini menjadi alasan mengapa semua orang merasa nyaman memilikinya, karena perusahaan ini memiliki begitu banyak cara untuk sukses di bidang AI,” kata Divyaunsh Divatia, analis riset di Janus Henderson Investors.

“Bisnis seperti mesin pencarian, chip, cloud, YouTube, dan Gemini, perusahaan ini menghasilkan uang dari begitu banyak sumber. Saya masih menyukai Nvidia, yang tetap menjadi perusahaan yang sangat kuat, tetapi itu hanyalah produsen chip.”

Kemenangan di bidang AI telah mempersiapkan Alphabet untuk menjadi perusahaan terbesar di dunia. (Dok. Bloomberg)

Pertumbuhan Alphabet menandai pembalikan yang mengejutkan. Kurang dari setahun yang lalu, investor membuang saham tersebut karena bisnis mesin pencari inti perusahaan dianggap sebagai korban potensial dari gangguan AI. Hal itu mulai berubah saat Alphabet mulai mengintegrasikan AI ke dalam pencarian Google dan Gemini menjadi salah satu chatbot AI paling populer.

Saat ini, para analis segera mengatrol perkiraan laba mereka. Selama sebulan terakhir, proyeksi konsensus untuk laba bersih Alphabet pada tahun 2026 naik sekitar 19%, dan perkiraan untuk tahun 2027 naik lebih dari 7%, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg. 

Meskipun demikian, memperpanjang reli saham Alphabet mungkin sulit, terlepas dari antusiasme Wall Street. Target harga rata-rata analis selama 12 bulan ke depan adalah sekitar US$422, naik 5,4% dari penutupan Jumat lalu. Hal itu merupakan perubahan yang cukup besar untuk saham yang telah naik 160% dalam 12 bulan sebelumnya.

Sudah barang tentu, ada risiko bahwa Gemini dan model AI terkemuka lainnya bisa disalip oleh pesaing. Perjuangan saham Alphabet tahun lalu menunjukkan betapa cepatnya sentimen bisa berubah di era AI. Saham Alphabet diperdagangkan dengan harga 28 kali lipat dari perkiraan laba.

Memang, ini bukanlah valuasi yang terlalu tinggi seperti pada era dot-com. Namun, angka tersebut jauh di atas rata-rata 10 tahun saham tersebut yang kurang dari 21, dan tepat di sekitar kelipatan tertinggi perusahaan sejak tahun 2008.

“Meskipun kita tak lagi mendapatkannya dengan harga sangat murah, tidaklah tidak masuk akal untuk berpendapat bahwa rasio ini dapat dipertahankan atau bahkan meningkat. Kami tidak akan ragu untuk membelinya untuk portofolio baru,” kata O’Neill dari CooksonPeirce.

Untuk memperkuat argumen tersebut, ia mengutip pernyataan Warren Buffett, yang mengatakan bahwa “jauh lebih baik membeli perusahaan yang luar biasa dengan harga wajar daripada perusahaan yang wajar dengan harga yang luar biasa.”

Sebagai bentuk dukungan yang bersifat rahasia, Berkshire Hathaway Inc. membeli saham di Alphabet tahun lalu, sebuah investasi teknologi yang jarang dilakukan oleh perusahaan investasi  milik Buffett.

“Bahkan jika harganya tidak lagi sangat murah, ini adalah harga yang wajar. Ini tidak diragukan lagi adalah perusahaan yang luar biasa,” pungkas O’Neill.

(bbn)

No more pages