“Sektor pelayaran, dan yang paling mencolok adalah data AIS, terjebak dalam baku tembak elektronik ini,” ujar Douglas, merujuk pada Automatic Identification System (AIS) yang menggunakan sinyal radio untuk memancarkan lokasi real-time kapal.
Meski tingkat interferensi elektronik saat ini belum separah pada awal pecahnya perang, kemunculan klaster kapal ini menunjukkan adanya tren peningkatan kembali setelah upaya pengacauan sinyal sempat mereda sebelumnya.
Meningkatnya gangguan sinyal ini mempersulit analisis data lalu lintas maritim secara real-time di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, yang sangat krusial untuk memantau arus energi global. Saat ini, banyak kapten kapal secara proaktif mematikan transponder mereka sebagai taktik perlindungan agar tidak menjadi sasaran pasukan musuh. Sebuah kapal kargo dilaporkan menjadi korban serangan di wilayah tersebut pada hari Minggu.
Hingga Senin (11/05/2026), lalu lintas melalui Selat Hormuz masih terpantau nyaris terhenti total. Hanya ada dua kapal tanker yang terpantau melakukan penyeberangan langka menuju Teluk Oman. Salah satunya adalah Agios Fanourios I, sebuah kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar yang bermuatan minyak Irak dan melaporkan Vietnam sebagai tujuan akhirnya.
(bbn)




























