Iran menawarkan untuk memindahkan sebagian persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi ke negara ketiga dalam tanggapannya terhadap proposal AS sebelumnya untuk mengakhiri perang selama 10 minggu, tetapi menolak gagasan pembongkaran fasilitas nuklirnya, lapor Wall Street Journal.
Iran membantah laporan tersebut, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim. Trump menyebut respons Iran itu sebagai “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA”.
“Penolakan Trump terhadap rencana perdamaian terbaru Iran membuat pekan ini dimulai dalam mode ‘risk-off’, membalik sebagian pergerakan harga yang kita lihat pekan lalu,” kata Jason Wong, strategist di Bank of New Zealand. “Ini dapat berlanjut pada perdagangan awal.”
Situasi ini menjadi pengingat bagi investor yang sebelumnya menikmati lonjakan momentum pasar setelah musim laporan keuangan AS yang solid dan tanda-tanda bahwa ekonomi terbesar dunia itu tetap tangguh menghadapi tekanan energi akibat perang Iran.
Saham global melonjak pekan lalu, mendorong S&P 500, Nasdaq 100, dan indeks saham Asia ke rekor tertinggi baru di tengah optimisme terhadap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Di berbagai pasar, keberhasilan strategi momentum — yakni masuk ke aset-aset yang baru saja mencatat kenaikan — telah menjadi ciri utama pasar.
Obligasi berisiko tinggi atau junk bonds dan aset kripto ikut terdorong, sementara salah satu indeks momentum saham ditutup pada Jumat mendekati level tertinggi sejak krisis keuangan global.
Para strategist Barclays Plc mengatakan perdagangan berbasis momentum telah mencapai level ekstrem yang secara historis sering menjadi pertanda aksi jual.
Di Goldman Sachs Group Inc., divisi perdagangan menulis pekan lalu bahwa valuasi saham-saham bermomentum tinggi sudah terlalu mahal dan posisi investor berada di salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan data prime brokerage.
Di pasar mata uang, pound sterling melemah menjelang pidato Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang bertujuan mencegah tantangan langsung terhadap posisinya.
Starmer akan memaparkan rencana untuk membalikkan nasib partai pemerintah, termasuk komitmen membawa Inggris lebih dekat ke Uni Eropa satu dekade setelah referendum Brexit.
“Tekanan terhadap Starmer untuk mundur meningkat,” tulis Elias Haddad, kepala strategi pasar global di Brown Brothers Harriman, dalam catatan kepada klien.
“Meski demikian, risiko pemerintah Partai Buruh bergerak lebih jauh ke kiri telah berkurang, yang mendukung pound sterling dan obligasi pemerintah Inggris (gilts).”
Sementara itu, data terbaru inflasi konsumen yang akan dirilis pekan ini kemungkinan menegaskan bahwa inflasi masih menjadi ancaman di AS.
Para ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) April naik tajam 0,6%, berdasarkan estimasi median survei Bloomberg.
Itu terjadi setelah kenaikan bulanan terbesar sejak 2022 pada Maret. Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS dijadwalkan terbit Selasa.
Dalam laporan Jumat, payroll nonfarm April naik 115.000 setelah lonjakan yang lebih besar pada Maret, menandai kenaikan dua bulan terkuat sejak 2024, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Tingkat pengangguran tetap di 4,3%.
Meski demikian, Federal Reserve diperkirakan masih akan menahan suku bunga untuk sementara guna melihat dampak lonjakan harga minyak terlebih dahulu.
Harga di pasar uang terus menunjukkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap tahun ini.
(bbn)

























