Kunjungan Araghchi dilakukan di tengah langkah AS yang terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran agar segera membuka kembali Selat Hormuz. Jalur perairan vital ini memfasilitasi sekitar 20% aliran minyak mentah dunia.
Departemen Keuangan AS baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah kilang minyak swasta China—termasuk Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co, salah satu pengelola kilang terbesar di negara tersebut—karena kedapatan mengolah minyak mentah asal Iran. China merespons langkah tersebut dengan memerintahkan perusahaan-perusahaannya untuk mengabaikan sanksi AS. Aksi pembangkangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini kian memanaskan ketegangan menjelang pertemuan Trump-Xi.
Meskipun Xi Jinping telah menyerukan agar Selat Hormuz segera dibuka kembali, sejauh ini Beijing menolak permintaan Washington untuk membantu Angkatan Laut AS dalam membuka blokade jalur air tersebut. KTT pekan depan akan menjadi kesempatan pertama bagi kedua pemimpin negara untuk mendiskusikan perang Iran secara langsung.
Sebelum bertolak ke Beijing, Araghchi telah lebih dulu mengunjungi Rusia—pendukung utama Iran lainnya—dan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada 27 April lalu. Sementara itu, kantor berita Rusia Tass melaporkan bahwa Putin juga berencana mengunjungi China pada paruh pertama tahun ini.
(bbn)



























