Logo Bloomberg Technoz

Nah 30% penghematan itu adalah dengan konten yang sama. Dengan harga yang sama dengan LPG 3 kg, kita bisa menghemat 30% subsidinya lebih rendah daripada subsidi LPG. Nah, ini memang masih bisa disimulasikan lagi nanti ya, tetapi hitung-hitungan awal seperti itu,” tegas dia.

Pekerja menanta tabung gas LPG subsidi 3kg di Pasar Rebo, Jakarta, Senin (20/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Laode juga menargetkan program konversi LPG 3 kg ke CNG tabung 3 kg dapat dimulai tahun ini, usai uji coba pengembangan CNG 3 kg rampung dilakukan dalam 2—3 bulan mendatang.

Proyek Percontohan

Laode mengungkapkan bakal terdapat pilot project atau proyek percontohan yang dijalankan di kota-kota besar di Pulau Jawa. Proyek percontohan tersebut ditargetkan mulai dijalankan tahun ini.

“Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat. Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa,” ujar Laode.

Dia juga sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4 berukuran 3 kg, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass.

“Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,” kata dia.

Terpisah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka opsi pemberian subsidi terhadap produk CNG 3 kg, meskipun harga produk tersebut diklaim lebih murah 30%—40% dari LPG.

Bahlil mengaku masih mengkaji kemungkinan besaran subsidi per tabung untuk proyek CNG 3 kg. Namun, sebagai perbandingan, dia menyebut nilai subsidi LPG mencapai sekitar Rp18.000—Rp20.000 per tabung.

“Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).

Dia mengungkapkan harga CNG dapat lebih murah hingga 30%—40% sebab Indonesia memiliki pasokan gas bumi dengan kandungan C1 atau metana dan C2 atau etana yang melimpah—kedua komponen tersebut merupakan bahan baku CNG.

Selain itu, dia menyatakan pasokan CNG bakal dipasok seluruhnya dari produksi dalam negeri. Walhasil, tidak diperlukan biaya pengangkutan dan impor seperti pada komoditas LPG.

“Kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar sudah jalan. Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai CNG. Hotel, restoran, kemudian MBG dapur-dapur MBG sudah pakai,” ujar dia.

Dia juga mengungkapkan Kementerian ESDM sedang melakukan uji coba pengembangan CNG di tabung 3 Kg, uji coba tersebut diklaim bakal memakan waktu sekitar 2—3 bulan.

Bahlil menyatakan uji coba tersebut diperlukan, sebab tekanan CNG terbilang lebih tinggi dibandingkan dengan LPG. Dia mencatat tekanan CNG dalam tabung bisa mencapai 200 hingga 250 bar.

Nah, ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyaallah 2—3 bulan ini kita akan dapat hasilnya, kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi,” kata Bahlil.

(azr/wdh)

No more pages