Pergerakan harga minyak membuat mata uang kawasan mendapat tenaga. Won Korea Selatan memimpin penguatan disusul ringgit Malaysia, yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore China.
Penurunan harga minyak dapat membuat tekanan terhadap mata uang di emerging markets mereda, termasuk Indonesia. Kekhawatiran terhadap beban fiskal dan tingginya angka inflasi dapat kembali tereduksi dengan harga minyak yang melandai.
Namun, tekanan harga minyak yang terjadi pada Maret mulai merembet ke capaian inflasi. Inflasi Filipina melonjak pada April menjadi 7,4%, melampaui ekspetasi ekonom di 5,5%, pada Maret di level 4,1%.
Begitu juga dengan Vietnam dengan inflasi tercatat naik menjadi 5,46% dari 4,65% pada Maret, padahal ekspektasi inflasi diramal ekonom di level 4,8%. Sementara, inflasi Thailand diramal akan sebesar 2,2%, setelah Maret kemarin -0,8%, dan inflasi India diramal 4%, naik dari bulan sebelumnya 3,4%.
Tekanan Rupiah
Bagi rupiah, pergerakan ke depan masih akan dibayangi oleh kondisi perekonomian domestik, khususnya pertumbuhan di sektor riil.
Data pertumbuhan ekonomi yang dirilis kemarin sempat mempertegas bahwa peran pemerintah sangat dominan dalam menopang pertumbuhan. Belanja pemerintah tercatat melonjak 21,81% yoy, angka ini terakselerasi dari kuartal sebelumnya yang hanya 4,55%.
Selain itu, belanja subsidi dan kompensasi juga tercatat naik 266,5% mencapai Rp118,7 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dominasi peran fiskal dalam program-program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), belanja modal pemerintah seperti Koperasi Desa/Perkotaan Merah Putih, dan belanja infrastruktur membuat peran pemerintah dan belanjanya jadi penopang utama pertumbuhan kuartal pertama 2026.
Dari kacamata investor, dominasi negara yang terlalu besar dan kewenangan yang berlebihan berisiko menganggu mekanisme pasar serta memperlambat pertumbuhan ekonomi, karena menciptakan kencenderungan kebijakan yang bersifat predatoris terhadap pelaku usaha.
Sehingga, meski capaian pertumbuhan cukup impresif di angka 5,61%, pasar merespons dengan dingin yang ditandai dengan pelemahan rupiah, dan aksi jual di pasar obligasi.
Di tengah berbagai sentimen ini, lantas bagaimana arah rupiah?
Dalam jangka pendek, rupiah berpeluang mendapat ruang penguatan, dengan mulai meredanya tekanan harga minyak global. Penurunan harga energi ini dapat membantu Indonesia memperbaiki persepsi risikonya, karena mengurangi kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dan membengkaknya beban subsidi energi.
Jika tren penurunan harga minyak ini terus berlanjut, maka tekanan terhadap defisit fiskal dan transaksi berjalan berpotensi mereda, sehingga dapat menahan laju pelemahan rupiah.
Namun demikian, ruang penguatan rupiah tampaknya masih terbatas. Pasar sepertinya tetap melihat bahwa ketahanan pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin bertumpu pada ekspansi fiskal pemerintah, sementara sektor swasta dan investasi riil belum menunjukkan pemulihan yang solid.
Arah Rupiah
Di tengah kondisi tersebut, secara teknikal rupiah sejatinya memiliki potensi rebound. Cermati resistance terdekat menuju level Rp17.400/US$ dengan target penguatan selanjutnya di Rp17.380/US$.
Jika nantinya berhasil break kedua resistance tersebut, maka rupiah berpotensi untuk melanjutkan apresiasi ke arah Rp17.300/US$. Resistance terkuat ada di Rp17.200/US$.
Namun apabila rupiah lesu lagi, maka support menarik dicermati adalah Rp17.450/US$. Support lanjutan ada di Rp17.500/US$ yang secara potensial menahan rupiah.
(riset/aji)




























