Logo Bloomberg Technoz

"Meningkatnya aversi risiko telah melemahkan rupiah terhadap dolar AS dan mata uang utama lainnya, sehingga meningkatkan biaya impor," sebut Tamara dalam catatannya, Senin (4/5/2026). 

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperbesar tekanan tersebut. Meningkatnya aversi risiko global telah mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Rupiah yang melemah terhadap dolar AS dan mata uang utama lainnya membuat biaya impor menjadi lebih mahal, terutama untuk barang-barang energi dan bahan baku industri. Kondisi ini berpotensi mempercepat transmisi inflasi dari sisi eksternal ke domestik.

Meski begitu, dampak kenaikan harga global tidak sepenuhnya diteruskan ke konsumen. Pemerintah saat ini masih mengandalkan kebijakan subsidi, khususnya di sektor energi, untuk meredam lonjakan harga. 

Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas inflasi dalam jangka pendek, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap ruang fiskal. Ketergantungan pada subsidi berisiko membebani anggaran negara jika tekanan harga global berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

Setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel berpotensi menambah defisit fiskal sebesar Rp6,8 triliun. Data realtime Bloomberg menunjukkan harga minyak Brent untuk pengiriman Juni masih dibanderol US$114,01 per barel. 

Sebagai catatan, pada kuartal I-2026, defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan risiko akan semakin membengkak mencapai Rp74,8 triliun apabila harga minyak bertahan tinggi lebih lama. 

(dsp/aji)

No more pages