Stientje van Veldhoven, Menteri Iklim dan Pertumbuhan Hijau Belanda, menyebut upaya untuk berhenti dari ketergantungan akan energi fosil sedang memiliki momentum. Menurutnya, banyak negara yang diuntungkan saat mengembangan energi bersih.
“Jika negara-negara bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil secara signifikan, maka artinya mereka akan membangun ekonominya sendiri ketimbang harus mengimpor dari negara lain. Mereka akan berinvestasi di teknologi dan melindungi diri dari guncangan harga energi seperti yang kita lihat sekarang,” tegas van Veldhoven, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana perkiraan harga batu bara untuk Mei? Apakah bisa bangkit atau justru kian terjepit?
Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), batu bara masih bertahan di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 52.
RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI batu bara belum jauh dari 50, sehingga boleh dibilang cenderung netral.
Adapun indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 83. Di atas 80, yang berarti sudah tergolong jenuh beli (overbought).
Untuk perdagangan bulan ini, harga batu bara kemungkinan masih akan tertekan. Target support terdekat ada di US$ 122/ton. Jika tertembus, maka ada risiko untuk mengetes level US$ 117-115/ton.
Target paling pesimistis atau support terjauh ada di US$ 106/ton.
Namun apabila harga batu bara berhasil bangkit, sepertinya US$ 137/ton akan menjadi pivot point. Dari situ, ada potensi untuk menguji resisten US$ 144-156/ton.
Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah US$ 177/ton.
(aji)




























