Di tengah sinyal ini, indeks dolar AS masih bertahan di level 98 dan harga minyak mentah Brent tetap di posisi US$111,26 per barel, naik 2,8% seperti ditunjukkan data realtime Bloomberg pada 06.20 WIB.
Namun, sentimen itu telah sampai di pasar Asia sebagai sinyal positif. Di pasar yang sudah buka, pergerakan mata uang mulai rebound, meski masih terbatas. Ringgit Malaysia, yuan offshore dolar Singapura, yuan offshore, yen Jepang, dan dolar Hong Kong menguat terbatas. Sebaliknya, won Korea Selatan dan baht Thailand kembali terdepresiasi.
Di sisi lain, pasar Asia berpotensi lesu dibayangi tekanan yang terjadi pada saham teknologi. Saham-saham Asia diperkirakan memulai perdagangan dengan nada hati-hati, mengikuti pelemahan bursa AS yang dipicu aksi jual di sektor teknologi.
Laporan mengenai OpenAI yang gagal mencapai target penjualan internal memicu kekhawatiran terhadap belanja kecerdasan buatan, sehingga menekan berbagai saham terkait.
Kombinasi antara kekhawatiran terhadap prospek AI dan lonjakan harga energi menjadikan sesi perdagangan kali ini krusial. Pasalnya, sektor teknologi selama ini menjadi motor utama reli saham global yang sempat menutup kerugian akibat konflik Timur Tengah.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi AS. Kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi inflasi, sehingga imbal hasil naik ke level tertinggi dalam beberapa pekan dan meredam harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Di sisi lain, dinamika global turut dipengaruhi perkembangan di OPEC, yang kini menghadapi ujian baru setelah Uni Emirat Arab memutuskan hengkang dari keanggotaan. Langkah ini berpotensi menggeser keseimbangan dan arah pasar energi global ke depan.
Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada paparan APBN Kita yang digelar hari ini. Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan fiskal, terutama di tengah kekhawatiran atas dampak kenaikan harga minyak terhadap keuangan negara serta volatilitas rupiah yang belakangan meningkat.
Persepsi terhadap kredibilitas fiskal menjadi krusial. Jika pemerintah mampu menunjukkan ruang yang cukup untuk meredam tekanan, misalnya melalui pengelolaan subsidi energi, strategi pembiayaan yang terukur, serta disiplin defisit, maka sentimen terhadap aset domestik berpeluang membaik.
Sebaliknya, jika risiko pelebaran defisit dan peningkatan kebutuhan pembiayaan dinilai terlalu besar, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut, terutama di tengah lingkungan global yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Sementara itu, dari pasar surat utang negara (SUN) lelang yang berlangsung kemarin cenderung stagnan. Di tengah persaingan instrumen utang antara otoritas fiskal dan moneter, minat investor terhadap SUN bertenor pendek menjadi lemah.
Hal tersebut menyebabkan penawaran yang masuk dalam lelang SUN kemarin tercatat sedikit menurun menjadi Rp74,95 triliun, dari sebelumnya Rp78,49 triliun.
Seiring itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga menurunkan nilai penyerapan menjadi Rp40 triliun dari Rp42 triliun pada lelang sebelumnya. Meski demikian, rasio bid-to-cover tetap terjaga stabil di level 1,87 kali.
Menjelang rilis data ekonomi oleh Kemenkeu, rupiah berpotensi bergerak dalam rentang sempit dengan dengan bias melemah tipis Rp17.210/US$ hingga Rp17.350/US$, kecuali terdapat katalis positif dari data pertumbuhan penerimaan pajak dari paparan APBNKita yang mampu memperbaiki sentimen pasar.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah masih berisiko melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah kemungkinan melemah menembus support level Rp17.250/US$. Support selanjutnya bisa menuju Rp17.300/US$.
Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp17.400/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan rupiah dalam jangka pendek (short-term).
Sebaliknya, nilai tukar rupiah memiliki level resistance terdekat di level Rp17.200/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya di level Rp17.100/US$.
(riset/aji)




























