Persaingan Imbal Hasil
Berdasarkan data dari BI yang dihimpun Bloomberg, imbal hasil SRBI 12 bulan tercatat terus menanjak ke hampir 6% dan mencatatkan posisi tertinggi sejak Juni 2025.
Mengacu data Bloomberg, pada Selasa (28/4/2026) 12:30 WIB, imbal hasil SRBI naik menjadi 5,91%. Kenaikan imbal hasil membuat investor tertarik masuk kembali ke pasar domestik. BI menyebut, posisi SRBI pada 21 April tercatat Rp885,41 triliun.
Begitu juga dengan imbal hasil SUN tenor 1 tahun kembali naik menjadi 5,93%. Naiknya imbal hasil SUN disebabkan oleh aksi jual investor di pasar SUN pada perdagangan siang ini.
Bersamaan dengan hari lelang SRBI Jumat (24/4/2026), pelaku pasar banyak melepas SUN dan menyebabkan sentimen bearish. "Koreksi luas tersebut dipicu oleh kenaikan suku bunga diskonto SRBI 12 bulan, 14.5 bps menjadi 5,91%," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas, dalam catatannya.
Masuknya arus dana asing ke instrumen SRBI sepanjang 2026 mengerek posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia dengan kenaikan 2,5% menjadi US$437,9 miliar per akhir Februari.
"Peningkatan posisi ULN tersebut didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," sebut Laporan Statistik ULN Indonesia.
Biaya Utang Naik
Kenaikan imbal hasil demi menjaga daya tarik investasi di aset rupiah bukan tanpa konsekuensi. Kenaikan ini berpotensi menambah beban bunga utang.
Pada 2026, pemerintah diperkirakan harus mengalokasikan dana hingga Rp599,44 triliun hanya untuk membayar bunga utang. Biaya ini naik 8,6% dari outlook 2025 yakni Rp552,14 triliun.
"Dalam perspektif yang lebih tajam, beban bunga ini telah menyedot sekitar 22,27% dari total pendapatan perpajakan negara," sebut Laporan Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) bertajuk Analisis Kritis Keberlanjutan Utang Indonesia 2026.
Sebagai gambaran, standar keamanan internasional yang sering dirujuk oleh lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional, beban bunga utang yang ideal berada di kisaran 10% dari pendapatan negara.
Dengan porsi tersebut, maka keuangan negara bisa dianggap sehat. Saat ini, rasio bunga terhadap pendapatan di Indonesia telah melampaui 20%.
"Jika pembayaran bunga digabung dengan cicilan pokok, maka proporsi pendapatan negara yang tersedot untuk kewajiban utang diperkirakan menembus 45%," kata laporan ISEAI.
ISEAI juga menyoroti bahwa kondisi saat ini menggambarkan adanya inefisiensi masif dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), lantaran hampir separuh dari hasil pemungutan pajak rakyat tidak kembali dalam bentuk layanan publik, atau pembangunan infrastruktur.
Berdasarkan hitungan ISEAI, setiap kenaikan 100 bps pada suku bunga pasar akan menambah beban bunga utang secara signifikan. "Mengingat besarnya volume utang baru yang harus diterbitkan pada 2026 untuk menambal defisit," kata laporan ini.
Hari ini, pemerintah kembali menggelar lelang SUN dengan target indikatif Rp36 triliun, melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan.
Melansir data ULN, total pinjaman pemerintah per Februari 2026 tercatat US$215,88 juta, sementara total pinjaman bank sentral US$28,295 juta.
(dsp/aji)



























