Ekspor minyak mentah dari rezim Iran telah anjlok tajam sejak awal April, ketika Presiden AS memerintahkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Karena lalu lintas melalui Selat Hormuz telah berkurang, pengiriman minyak Iran baru-baru ini turun menjadi sekitar 567.000 barel per hari, kata Kpler. Ekspor rata-rata sekitar 1,85 juta barel per hari pada Maret.
Namun, blokade tersebut tidak akan langsung memengaruhi keuntungan Iran, dengan dampak terhadap pendapatan diperkirakan baru terasa dalam tiga hingga empat bulan ke depan, kata Kpler.
Pengiriman minyak mentah Iran biasanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk mencapai beberapa pelabuhan di China, tujuan utama minyak mentah rezim tersebut, seringkali tiba melalui jalur yang tidak transparan yang dirancang untuk menghindari sanksi. Kemudian, para pembeli memiliki waktu dua bulan lagi untuk menyelesaikan pembayaran, menurut Kpler.
Kpler mengatakan pihaknya belum mengamati adanya kapal tanker yang berhasil menghindari blokade angkatan laut AS di wilayah sekitar Selat Hormuz. Pemuatan minyak mentah Iran ke kapal tanker telah anjlok sekitar 70% sejak blokade AS diberlakukan, demikian catatan para peneliti.
(bbn)




























