Logo Bloomberg Technoz

BOJ menekankan pentingnya mencermati perkembangan di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak, setelah perang yang dipicu Presiden AS Donald Trump terhadap Iran menggagalkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga pada pertemuan kali ini. Banyak ekonom kini beralih memperkirakan kenaikan akan terjadi pada Juni.

“Perlu memberikan perhatian khusus terhadap dampak perkembangan situasi di Timur Tengah terhadap pasar keuangan dan nilai tukar, serta terhadap aktivitas ekonomi dan harga di Jepang,” demikian pernyataan BOJ.

Pelaku pasar akan mencermati pernyataan Gubernur Ueda dalam konferensi pers yang biasanya digelar sekitar pukul 15.30 waktu Tokyo. Pada April 2024, komentarnya terkait yen setelah keputusan menahan suku bunga dinilai dovish dan memicu pelemahan mata uang tersebut hingga akhirnya mendorong intervensi beberapa hari kemudian.

Grafik pergerakan Yen. (Sumber: Bloomberg)

BOJ juga menyesuaikan bahasa dalam pernyataannya terkait rencana kenaikan suku bunga. Bank sentral kini menyebut akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap “perkembangan” ekonomi, berbeda dari sebelumnya yang mengaitkannya dengan “perbaikan” ekonomi—perubahan yang membuka peluang kenaikan meski pertumbuhan melambat. BOJ juga menyatakan akan memantau kondisi keuangan.

Anggota dewan yang cenderung hawkish, Hajime Takata dan Naoki Tamura, bersama anggota yang biasanya moderat, Junko Nakagawa, memilih untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan ini.

BOJ memperkirakan tren harga akan sejalan dengan target inflasi 2% pada paruh kedua tahun fiskal 2026 hingga 2027, sejalan dengan panduan sebelumnya. Periode proyeksi tiga tahun fiskal bergulir kini mencakup hingga tahun fiskal 2028.

BOJ menjadi bank sentral besar pertama pekan ini yang mempertahankan suku bunga, sementara Federal Reserve, Bank of England, dan Bank Sentral Eropa juga diperkirakan mengambil langkah serupa sembari mengevaluasi dampak perang di Timur Tengah. Suku bunga BOJ yang tetap paling rendah di antara ekonomi utama turut menciptakan selisih imbal hasil yang berkontribusi terhadap pelemahan yen.

BOJ menyebut risiko inflasi cenderung meningkat, sementara risiko terhadap ekonomi justru cenderung melemah. Proyeksi pertumbuhan tahun ini juga dipangkas mendekati potensi pertumbuhan ekonomi Jepang.

Setelah keputusan tersebut, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 63% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada 16 Juni, berdasarkan harga di pasar swap semalam. Survei Bloomberg News juga menunjukkan 57% pengamat BOJ memperkirakan kenaikan pada periode tersebut.

Namun, preferensi Perdana Menteri Sanae Takaichi terhadap stimulus moneter berkelanjutan berpotensi mempersulit upaya BOJ dalam melanjutkan normalisasi kebijakan. Toichiro Asada, akademisi yang dikenal pro reflasi, untuk pertama kalinya mengikuti rapat penentuan suku bunga setelah ditunjuk oleh Takaichi sebagai anggota dewan. Ayano Sato, yang juga memiliki pandangan serupa, dijadwalkan bergabung pada Juni.

Dalam berbagai kesempatan di parlemen, Ueda berulang kali memperingatkan adanya risiko kenaikan imbal hasil obligasi jika bank sentral terlalu lambat dalam menaikkan suku bunga.

(bbn)

No more pages