Meskipun penurunan dari penetapan hari Jumat kurang dari 100 pips, langkah ini memberi sinyal bahwa otoritas China ingin menjaga mata uangnya tetap stabil, bahkan cenderung menguat.
Bagi pasar global, hal ini menjadi penting penting karena yuan adalah salah satu mata uang paling berpengaruh di kawasan Asia. Ketika China menunjukkan komitmen menjaga nilai tukarnya, pelaku pasar merasa lebih tenang bahwa tidak akan ada pelemahan besar yang bisa mengguncang kawasan.
Sementara pergerakan di pasar Surat Utang Negara (SUN) cenderung beragam. Imbal hasil tenor 1 tahun, 2 tahun, 4 tahun, dan 7 tahun mengalami penurunan masing-masing 1,4 bps (5,88%), 3,1 bps (6,16%), 0,1 bps (6,57%), dan 0,2 bps (6,68%). Hal ini mengindikasikan bahwa investor masih mengakumulasi SUN di tenor tersebut.
Sebaliknya, imbal hasil tenor 3 tahun naik 5,3 bps ke 6,3%, tenor 5 tahun naik 2,5 bps ke 6,62%, 6 tahun naik 0,8 bps ke 6,69%, dan tenor 8 tahun naik 1 bps ke 6,75%. Bahkan tenor acuan 10 tahun tercatat naik 1,8 bps ke 6,75%.
Meski begitu, di balik pergerakan yang relatif stabil sore ini, pasar sepertinya masih menyimpang kehati-hatian. Sebab, kenaikan imbal hasil pada tenor menengah hingga panjang, termasuk tenor acuan 10 tahun, jadi cerminan bahwa premi risiko masih diganjar mahal oleh investor.
Harga minyak yang masih bertahan di atas US$100 per barel jadi faktor penekan rupiah. Pelaku pasar masih mencermati potensi pelebaran defisit neraca berjalan ke depan, sebab Indonesia masih menjadi salah satu net importir minyak.
Menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dari kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal serta risiko menyusutnya surplus perdagangan di tengah kenaikan harga minyak.
Di sisi lain, rilis data ekspor-impor periode Maret pada 4 Mei mendatang diperkirakan akan menjadi momen penting untuk mengukur fundamental ekonomi dari sisi keseimbangan eksternal atau defisit neraca berjalan.
Jika surplus dari neraca dagang Maret lebih rendah dari US$1,5 miliar, maka rupiah akan kembali tertekan oleh risiko pelebaran defisit neraca berjalan ke rentang atas proyeksi Bank Indonesia (BI) mendekati 1,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dengan begitu, meski hari ini rupiah berhasil menguat tipis, tren ke depan masih akan ditentukan oleh perkembangan geopolitik dan pergerakan harga energi. Selain itu, data ekonomi yang akan rilis pada Senin pekan depan akan memperlihatkan fundamental RI di tengah tekanan eksternal saat ini.
(dsp/aji)



























