Meski harga minyak naik, namun di pasar mata uang kawasan mayoritas berada di zona hijau. Dolar Taiwan memimpin penguatan 0,3%, disusul ringgit Malaysia 0,29%, won Korea Selatan 0,26%, baht Thailand, 0,19%, peso Filipina 0,11%, dan yuan offshore dan China masing-masing 0,09% dan 0,04%.
Sementara, hanya rupiah dan dolar Hongkong yang tercatat melemah.
Beberapa negara di kawasan mencari cara untuk mengatasi krisis energi, salah satunya dengan membeli minyak Rusia. Pembelian minyak dari Rusia terus meningkat setelah AS melonggarkan sanksi Rusia untuk sementara secara terbatas sampai 16 Mei 2026.
Dari dalam negeri, belum banyak katalis yang mampu memperkuat posisi rupiah pada pekan ini di tengah tingginya tekanan eksternal.
Namun, rilis data ekspor-impor periode Maret pada tanggal 4 Mei mendatang diperkirakan akan menjadi momen penting untuk mengukur fundamental ekonomi dari sisi keseimbangan eksternal atau defisit neraca berjalan.
"Apabila surplus dari neraca dagang Maret lebih rendah dari US$1,5 miliar, maka rupiah akan kembali tertekan oleh risiko pelebaran defisit neraca berjalan ke rentang atas proyeksi Bank Indonesia (BI) mendekati 1,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist dan Nanda Puput Rahmawati Research Analyst Mega Capital Sekuritas dalam catatannya.
Di sisi lain, arus modal asing yang masuk ke pasar instrumen moneter SRBI sepanjang April tercatat sebesar Rp29 triliun. Hal ini membuat pasar Surat Utang Negara (SUN) mengalami tekanan aksi jual pada penutupan perdagangan pekan lalu.
Meski begitu, pekan ini pemerintah dijadwalkan kembali melelang SUN dengan target indikatif Rp36 triliun dan potensi penyerapan hingga Rp54 triliun atau 150% dari target awal.
Pemerintah menawarkan 9 seri, terdiri dari tiga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) bertenor pendek dan enam obligasi fixed rate (FR) dengan jatuh tempo hingga 2064. Instrumen ini diterbitkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2026, dengan sistem lelang terbuka menggunakan metode multiple price melalui Bank Indonesia.
Namun, tingkat kupon obligasi panjang yang ditawarkan semakin mahal dan berada di kisaran 6,5% hingga di atas 7%. Hal ini mencerminkan adanya premi risiko yang meningkat di pasar domestik kala ketidakpastian geopolitik masih tinggi.
(dsp/aji)





























