Bagi Kepala Desa Terong, Iswandi narasi sejarah menjadi fondasi penting, karena sebagian besar pengunjung sebelumnya bahkan tidak mengetahui asal-usul nama desanya ini.
"Karena 99% orang yang datang ke desa kita tanya, kenapa dinamakan Desa Terong? Apakah memang banyak sayur Terong? Apakah banyak petani terong?" Kata Iswandi dengan sambutan hangatnya, dalam kunjungan akhir pekan lalu, dikutip Senin (27/4/2026).
Namun, secara historis nama "Terong" sendiri memiliki makna yang tak hanya sekadar nama. Bahkan, Iswandi berkelakar tak cukup bila diceritakan hanya dalam waktu satu hari, namun singkatnya diyakini berasal dari gabungan kata "terang" dan "terong".
Konon, pada masa kolonial Belanda, wilayah tersebut belum memiliki nama resmi. Saat orang Belanda bertanya kepada warga setempat tentang nama kampung, mereka menjawab Desa Terang. Jawaban tersebut merujuk pada kondisi wilayah yang kala itu terbuka, tanpa pepohonan besar.
Cerita tidak berhenti di situ. Dalam tuturan masyarakat, terdapat legenda tentang sosok Nenek Sati, figur yang diyakini menyelamatkan warga dari serangan perompak laut atau lanun.
Kala itu, warga kerap diserang dan dijarah. Hingga dalam satu peristiwa, warga melarikan diri ke hutan dan meminta pertolongan Nenek Sati. Ia kemudian melemparkan alat semacam bumerang, yang katanya mampu kembali ke pemiliknya.
Senjata itu berhasil mengalahkan para perompak dan mengakhiri teror yang selama ini menghantui desa.
Lewat sejarah inilah, kemudian dirangkai kembali oleh warga setempat terutama ketika Desa Terong mulai berbenah menjadi desa wisata.
Tekad Menjadi Desa Wisata
Secara waktu tempuh, perjalanan menuju Desa Terong dikatakan hanya membutuhkan waktu yang singkat, namun secara harfiah butuh waktu panjang bagi desa ini bertransformasi menjadi desa wisata. Tak ada dana besar, tak ada program bantuan, hanya tekad kuat mendasarinya saat itu.
"Jadi kita itu sebenarnya merintis, dari 2013-2016 kita merintis [semua] secara mandiri. Tidak pakai dana CSR, tidak ada pakai dana lain-lain, tidak ada pakai dana desa," kata Iswandi sembari mengenang hal tersebut.
Walakin gagasan menjadikan desa ini sebagai desa wisata sepenuhnya belum begitu dipahami oleh mereka saat itu, tetapi mereka bergerak bergotong royong menata potensi desa meski bermodal sumber daya manusia yang terbatas.
Perlahan warga mulai belajar, mencari referensi hingga studi banding secara mandiri.
Hingga akhirnya, titik balik dari upaya warga desa datang pada 2016. Saat itu infrastruktur perlahan dibangun, dan untuk pertama kalinya Desa Terong menjual paket wisata.
Konsepnya sederhana, wisata edukasi berbasis pengalaman langsung atau live-in, kuliner lokal, hingga interaksi dengan kehidupan warga. Bahkan makan bedulang juga menjadi aktivitas khas lain dari desa ini.
Sekadar catatan, Bedulang sendiri merupakan tradisi makan bersama khas Belitung yang melambangkan kebersamaan dan persaudaraan, di mana empat orang duduk bersila mengelilingi satu dulang (nampan besar). Tradisi ini menggunakan tudung saji merah, menyajikan lauk-pauk khas Belitung.
Lebih lanjut, kata Iswandi, rombongan pertama datang dari Jakarta, terdiri dari 78 mahasiswa dan dosen yang menempati homestay milik warga selama lima hari empat malam. Hasilnya lewat kunjungan perdana ini, perputaran uang mencapai sekitar Rp113 juta.
Di mulai dari sana, dampaknya mulai terasa ke perekonomian warga. Pendapatan desa dari sektor wisata meningkat dari tahun ke tahun, hingga mencapai puncaknya pada 2019. Dalam satu tahun, perputaran uang hampir menyentuh Rp700 juta--angka yang cukup besar untuk sebuah desa kecil di kepulauan.
Terdampak Pandemi Covid-19
Namun, pandemi Covid-19 mengubah arahnya. Sejak April hingga November 2020 aktivitas wisata nyaris terhenti. Pendapatan dikatakan anjlok. Desa Terong mau tak mau harus menerima kenyataan tak menyenangkan ini, sebab terjadi stagnansi.
Namun, alih-alih menyerah mereka pun turut memilih beradaptasi. Dengan gerakan New Normal yang dilakukan, mereka memperkuat kelembagaan dengan bekerjasama dengan Satgas Covid-19 dan menerapkan SOP yang ketat.
"Jadi waktu itu siapapun bisa datang ke Pulau Blitung harus mengikuti SOP-SOP biar aman, dan Alhamdulillah dari November 2020 sampai kemudian 2022 kita termasuk desa pertama yang berani menerima tamu dalam keadaan masih Covid-19," jelas Iswandi.
Meski demikian, dampak ekonomi tetap terasa. Pada akhir 2020, perputaran uang hanya sekitar Rp60 juta. Perlahan, angka itu mulai pulih. Sekitar Rp80 juta pada 2022, menembus Rp100 juta pada 2023, hingga mencapai Rp200 juta lebih pada 2024.
Namun, angka tersebut masih belum mampu menyamai masa kejayaan sebelum pandemi.
Bahkan hingga 2025, perputaran ekonomi desa wisata ini baru pulih ke kisaran Rp200 juta per tahun. Jumlah kunjungan juga dikatakan turun drastis, di mana dari sekitar total 3.000 wisatawan sebelum pandemi menjadi kurang dari 100 orang.
Padahal dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2025, setidaknya tercatat total angka kunjungan wisatawan ke Provinsi Bangka Belitung mencapai 29.941 dengan 28.165 di antaranya merupakan wisatawan domestik dan 1.776 merupakan wisatawan mancanegara.
Di samping itu, pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi pulau timah ini meningkat 4,09% secara tahunan, atau lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 0,77%.
Penguatan Manajemen SDM
Kepala Desa Terong ini pun mengungkapkan tantangannya bukan hanya soal pemulihan, tetapi juga perubahan tren pariwisata yang menutut inovasi lebih cepat. Sehingga, di tengah keterbatasan, kolaborasi menjadi kunci.
Sejalan dengan hal tersebut, kemitraan dengan perbankan sejak 2018 pun turut mempercepat promosi serta pembinaan desa.
Di samping itu, ke depan pengembangan desa wisata dijelaskannya akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan kelembagaan, serta pengembangan paket wisata berbasis tren baru seperti cultural immersion--di mana wisatawan tidak hanya berkunjung, tetapi juga belajar dan berkontribusi langsung pada masyarakat lokal.
Konsep ini dinilai sejalan dengan pergeseran tren pariwisata global, di mana wisatawan kini lebih tertarik pada pengalaman autentik dan berkelanjutan. Dengan letak geografis yang strategis, lantaran dekat dengan Singapura dan Malaysia--Belitung dinilai memiliki peluang untuk berkembang sebagai hub pariwisata berbasis pengalaman.
"Menumbuhkan SDM ya tentunya harus dengan konsep try and error. Jadi yang pertama poinnya tetap kita fokus di pemuda-pemuda, masyarakat terus mengikuti tren perwisataan kekinian, yang ketiga menguatkan badan usaha penduduk desa dan koperasi desa merah putih yang ada," ujar Iswandi.
Dengan demikian, bagi Desa Terong, keberhasilan bertahan sejauh ini menjadi bukti bahwa bekas tambang pun bisa menjadi sumber kehidupan baru, asal dikelola dengan visi dan konsistensi.
(lav)





























