Logo Bloomberg Technoz

Gejolak Harga Energi Berlanjut, Rupiah Masih Tertekan

Tim Riset Bloomberg Technoz
27 April 2026 08:29

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar luar negeri masih defensif. Nilai kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka menguat terbatas 0,06% di level Rp17.253/US$ pada perdagangan pagi ini, Senin (27/4/2026). 

Hal ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah kondisi ketidakpastian geopolitik dan tekanan energi yang belum mereda. 

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama dunia kembali tercatat menguat 0,81% ke 99,32, seiring kembali naiknya harga minyak mentah lantaran negosiasi AS dan Iran jalan di tempat. 


Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 2,3% ke level US$107,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$96. 

Meski gencatan senjata masih bertahan sejak awal April, blokade di Selat Hormuz oleh AS dan Iran membuat titik perlintasan energi utama tersebut praktis tidak bisa dilalui.