Logo Bloomberg Technoz

Pendiri Palantir Kuak Alasan di Balik CEO Buat Keputusan PHK

Merinda Faradianti
11 June 2026 18:50

Pendiri Palantir Technologies, Joe Lonsdale. dok: Bloomberg
Pendiri Palantir Technologies, Joe Lonsdale. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pendiri Palantir Technologies, Joe Lonsdale menilai bahwa banyak perusahaan teknologi menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai alasan untuk membenarkan pemutusan hubungan kerja (PHK). Padahal, kata Lonsdale, akar masalahnya justru berasal dari perekrutan berlebihan dan kesalahan manajemen pada masa lalu.

Dalam unggahan yang kemudian menjadi perbincangan luas di kalangan industri teknologi, Lonsdale mengatakan sejumlah CEO mengklaim PHK dilakukan karena peningkatan produktivitas berkat AI.

Namun narasi tersebut sering kali tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Ia menduga banyak perusahaan yang sebelumnya terlalu agresif merekrut karyawan ketika bisnis sedang tumbuh pesat. Lalu, kini menggunakan AI sebagai alasan yang lebih mudah diterima publik untuk melakukan pengurangan tenaga kerja.

“Beberapa perusahaan sebenarnya hanya merekrut terlalu banyak orang atau menurunkan standar perekrutan mereka, lalu sekarang menyebutnya sebagai hasil produktivitas AI,” kata Lonsdale yang dikutip Business Insider, Kamis (11/6/2026).

Pernyataan Lonsdale mendapat dukungan dari sejumlah tokoh industri teknologi dan investor ventura. Mereka menilai tidak semua pengurangan karyawan berkaitan langsung dengan otomatisasi berbasis AI.

Sebagian besar masih dipengaruhi faktor ekonomi, target pertumbuhan yang tidak tercapai, hingga strategi efisiensi perusahaan setelah periode ekspansi besar-besaran selama beberapa tahun terakhir.

Data terbaru dari firma konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas memang menunjukkan AI kini menjadi alasan yang paling sering disebut perusahaan ketika mengumumkan PHK di Amerika Serikat.

Fotografer: Evan Sheehan dan Alex Wallbaum untuk Bloomberg Businessweek ; produksi oleh Breakfast for Dinner.

Pada Mei 2026, sekitar 40% dari total pengurangan pekerjaan yang diumumkan dikaitkan dengan AI. Meski demikian, lembaga tersebut menegaskan belum ada bukti bahwa AI telah memicu gelombang kehilangan pekerjaan dalam skala besar seperti yang sebelumnya dikhawatirkan banyak pihak.

Di sisi lain, para pemimpin industri juga mulai memperingatkan agar perusahaan berhati-hati dalam menyampaikan narasi mengenai AI dan tenaga kerja.

Dirinya bahkan mengingatkan, perusahaan yang terlalu bangga mengumumkan pengurangan karyawan karena AI berisiko memicu reaksi negatif dari pekerja maupun publik.

Menurut Lonsdale, AI memang mampu meningkatkan produktivitas dan mengubah cara perusahaan beroperasi. Namun ia menilai, penggunaan AI seharusnya tak dijadikan alasan untuk mengaburkan keputusan bisnis yang sebenarnya berasal dari kesalahan perencanaan perusahaan.

“Saya percaya pada produktivitas yang lebih tinggi berkat AI,” tulis dia dalam sebuah komentar. “Saya juga tahu apa yang dilakukan ratusan perusahaan.”