Meski demikian, Myrdal melihat masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan, terutama jika inflasi menurun, yang umumnya dipicu oleh turunnya harga energi, khususnya BBM non-subsidi seiring dengan penurunan harga minyak dunia.
“Kalau harga minyak dunia turun, kita lihat kemungkinan kondisi ekonomi kita juga akan kembali kondusif, terutama dari sisi fiskal,” jelas dia.
Dia menambahkan selama kebijakan stabilisasi harga oleh pemerintah tetap terjaga tanpa perubahan drastis, maka peluang pelonggaran suku bunga tetap terbuka.
Senada, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual juga memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga acuannya di level 4,75% pada RDG April ini.
“Kemungkinan masih akan menahan karena tekanan eksternal terutama kenaikan harga minyak dan inflasi diproyeksikan masih relatif meningkat,” ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku tengah menyesuaikan ulang kebijakan untuk merespons tekanan eksternal yang dipicu konflik geopolitik dan gejolak pasar global.
“Meskipun BI Rate kami pertahankan 4,75% nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama, semakin tertutup dan kami juga harus kemudian menyikapinya menggunakan untuk stabilitas,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Hasil RDG periode Maret 2026, bank sentral memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate tetap di level 4,75%.
Perry menjelaskan bank sentral akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah.
(lav)




























