Logo Bloomberg Technoz

Kapal tanker LNG sering kali mengubah rute, dan belum ada jaminan bahwa kapal-kapal yang mengarah ke selat tersebut akan benar-benar melanjutkan perjalanan mereka. Dalam satu bulan terakhir, beberapa kapal LNG tercatat sempat membatalkan upaya melintasi Hormuz.

Pihak Teheran menegaskan bahwa kapal-kapal dapat bergerak melalui "rute terkoordinasi yang telah diumumkan sebelumnya." Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa blokade angkatan laut Amerika di Hormuz akan tetap berlaku penuh.

Namun media Iran melaporkan bahwa kapal dan kargo yang terkait dengan negara "seteru" tidak akan diizinkan melintas. Selain itu, setiap transit harus diatur dengan otoritas Iran, dan mereka mengancam akan menutup kembali selat tersebut jika blokade AS terhadap kapal-kapal Iran terus berlanjut.

Menurut pelacak kapal Kpler, saat ini terdapat 15 kapal LNG bermuatan di dalam Teluk yang kemungkinan akan mencoba melintasi Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Namun, banyak hal akan bergantung pada bagaimana perusahaan asuransi merespons berita terbaru ini.

Sebagai langkah awal, kargo "kemungkinan besar akan dikirim ke pembeli di Asia, khususnya di wilayah Asia Selatan, di mana kami melihat aktivitas pembelian spot dalam beberapa minggu terakhir," ujar Ronald Pinto, analis utama gas dan LNG di Kpler.

Pertanyaan besar lainnya adalah kapan Qatar akan memulai kembali produksi di fasilitas LNG miliknya yang merupakan terbesar di dunia. Fasilitas tersebut ditutup bulan lalu setelah sekitar 17% kapasitasnya rusak akibat serangan Iran.

"Jika dan ketika QatarEnergy memberikan indikasi bahwa mereka mulai beroperasi kembali—meskipun hanya beberapa rangkaian LNG mereka di Ras Laffan—maka kita mungkin akan melihat penurunan harga gas yang jauh lebih tajam," kata Tom Marzec-Manser, direktur gas dan LNG Eropa di konsultan Wood Mackenzie Ltd.

(bbn)

No more pages