Meski demikian, momentum menuju kesepakatan terus menguat sepanjang hari. Para pemimpin di Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz kini terbuka bagi pelayaran komersial setelah Israel menyetujui gencatan senjata di Lebanon. Setidaknya delapan kapal tanker minyak yang sebelumnya tertahan di Teluk Persia dilaporkan segera melaju menuju selat tersebut untuk menguji pengumuman tersebut.
Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS dan Iran telah mengadakan "beberapa diskusi yang sangat baik" dan pembicaraan tersebut akan terus berlanjut sepanjang akhir pekan. "Banyak hal baik yang terjadi, termasuk di Lebanon," tambahnya.
Komentar Trump dan pernyataan Teheran ini menjadi sinyal terbaru bahwa kedua belah pihak sedang bekerja di balik layar untuk mengakhiri perang yang meletus sejak akhir Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.
Serangan tersebut memicu balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan serta serangan ke infrastruktur minyak dan gas milik sekutu Amerika di Teluk Persia, yang memicu krisis energi global.
Menyusul perkembangan ini, harga minyak, bahan bakar, dan gas alam langsung anjlok karena harapan akan kembalinya pasokan energi yang aman melalui selat. Minyak mentah Brent turun 9% ke level sekitar US$90 per barel pada Jumat sore waktu New York. Harga fisik minyak dunia, Dated Brent, juga turun di bawah US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 11 Maret.
Meski pasar merespons positif, mencapai kesepakatan dengan Iran bisa menjadi langkah yang berisiko secara politik bagi Trump. Kerangka kesepakatan ini menyerupai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015, yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi.
Trump menarik AS keluar dari kesepakatan era Obama tersebut pada 2018, menyebutnya sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah ada." Ia berargumen bahwa kesepakatan itu hanya memberikan bantuan finansial besar tanpa benar-benar menghilangkan kemampuan nuklir Iran atau membatasi rudal balistik serta dukungan mereka terhadap kelompok proksi.
"Jika ada kesepakatan yang mencakup pencabutan sanksi dan transfer uang tunai, itu adalah risiko besar karena presiden berkampanye melawan hal-hal semacam itu," kata Behnam Ben Taleblu, direktur senior Iran Program di Foundation for Defense of Democracies.
“Pertanyaannya bukan bagaimana kesepakatan itu melemahkan retorika presiden,” ujarnya. “Pertanyaannya adalah bagaimana kesepakatan itu berpotensi melemahkan strategi yang telah dinyatakan presiden.”
Laporan dari Axios menyebutkan salah satu proposal yang didiskusikan adalah pelepasan dana Iran sebesar US$20 miliar yang dibekukan, sebagai imbalan atas penyerahan stok uranium yang diperkaya milik Teheran.
Trump membantah ide tersebut dalam wawancara telepon, berulang kali mengatakan "tidak" saat ditanya apakah ia akan mencairkan dana tersebut. Pendukung setianya, termasuk Senator Republik Lindsey Graham, menyuarakan kekhawatiran jika Trump masuk ke dalam pengaturan yang menyerupai kebijakan era Obama.
"Saya sangat yakin Presiden Trump tidak akan membiarkan Iran diperkaya dengan puluhan miliar dolar karena telah menyandera dunia dan menciptakan kekacauan di kawasan," tulis Graham di platform X. “Tidak ada JCPOA di era Presiden Trump.”
Putaran awal pembicaraan gencatan senjata di Islamabad yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan. Pejabat Pakistan dan AS mengindikasikan putaran pembicaraan berikutnya sedang disiapkan. Ketika ditanya apakah ia akan pergi ke Pakistan untuk menandatangani kesepakatan, Trump menjawab, “Mungkin saja.”
Namun banyak trader dan analis masih skeptis bahwa arus minyak mentah dapat kembali normal dalam waktu dekat. AS menyatakan blokade yang diberlakukan awal pekan ini terhadap kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran masih berlaku. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut blokade tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan AS dan berjanji akan mengambil tindakan jika kebijakan itu tetap diterapkan.
Dalam wawancara telepon tersebut, Trump mengatakan pembicaraan AS–Iran merupakan “kesepakatan yang sepenuhnya terpisah” dari gencatan senjata di Lebanon. Meski demikian, kampanye militer Israel di Lebanon selatan terhadap Hizbullah sebelumnya menjadi hambatan utama bagi kesepakatan yang lebih luas. Gencatan senjata tersebut masih bertahan hingga Jumat.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat mengatakan militer “belum menyelesaikan tugasnya” terhadap Hizbullah. Tujuannya adalah membongkar kelompok tersebut dan “hal itu tidak akan tercapai dalam waktu dekat.”
Militer Israel telah menduduki sebagian besar wilayah Lebanon selatan selama kampanye tersebut, yang menurut otoritas setempat telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa sekitar satu juta orang mengungsi.
“Kami berharap bisa berdamai dengan semua pihak, dan kami akan menata kembali Lebanon,” kata Trump. “Kami tidak akan membombardir Lebanon secara brutal, dan kami juga tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya.”
(bbn)




























