Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan rupiah siang ini kembali menyentuh level terendahnya sepanjang sejarah. Melansir data realtime Bloomberg, sejak pembukaan hingga 10:50 WIB rupiah telah melemah 0,29% ke posisi Rp17.186/US$. 

Pergerakan rupiah sesi Jumat (17/4/2026) kembali melemah dan hampir menuju Rp17.200/US$. (Bloomberg)

Pelemahan rupiah berlanjut di pekan ketiga bulan ini akibat meningkatnya kebutuhan dolar untuk repatriasi dividen. Selain itu kekhawatiran pasar masih belum sirna sepenuhnya, terutama dipicu oleh potensi pelebaran defisit fiskal akibat tingginya harga minyak. 

"Kepercayaan investor masih lemah, di tengah kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan risiko penurunan peringkat, kemungkinan berkontribusi pada kesenjangan undervaluasi tersebut, bersamaan dengan penguatan dolar AS secara luar sejak konflik Iran dimulai," tulis Stephen Chiu dan Chunyu Zhang, Strategis Valas Bloomberg Intelligence, dalam catatannya.

Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah, dan memperlebar defisit anggaran. Di sisi lain, tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi juga bisa memicu kenaikan suku bunga di pasar. Hal ini kemudian berdampak pada tingginya biaya pinjaman pemerintah dan semakin menambah beban fiskal.

Pasar keuangan domestik memang cenderung rentan terhadap gejolak dan ketidakstabilan geopolitik lantaran bertumpu pada arus modal asing.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dalam konteks itu Indonesia perlu memperdalam pasar obligasi domestik, menjaga pasokan valas, dan membuat pembiayaan pemerintah lebih tahan terhadap gejolak asing.

Sebagai catatan, kebutuhan pembiayaan negara saat ini masih bertumpu pada penerbitan obligasi bruto melalui lelang, non-lelang, pinjaman luar negeri, dan obligasi valas.

(dsp/aji)

No more pages