Sekolah Rakyat Tahap II di Surabaya dibangun di atas lahan seluas sekitar 6,6 hektare yang berlokasi di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak. Lahan tersebut berstatus hak pakai milik Pemerintah Kota Surabaya dan dikerjakan oleh kontraktor Waskita Karya–CAG KSO melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Jawa Timur. Pemilihan lokasi yang strategis ini diharapkan dapat memudahkan akses bagi peserta didik dari berbagai penjuru kota.
Sekolah Rakyat Wujud Nyata Entaskan Kemiskinan Lewat Pendidikan
Menteri Dody menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan merupakan bagian integral dari program prioritas Presiden dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem melalui pendekatan pendidikan yang terstruktur, menyeluruh, dan bermartabat. Program ini hadir sebagai jawaban konkret atas kebutuhan masyarakat prasejahtera yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas bagi putra-putri mereka.
"Ini kan program prioritas Presiden untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem melalui pendidikan yang layak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Caranya ya dengan menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah yang proper dan baik, diasramakan, diberikan baju dan makanan bergizi," tambahnya.
Konsep Sekolah Rakyat dirancang secara komprehensif untuk memenuhi seluruh kebutuhan dasar peserta didik selama menjalani proses pendidikan. Bukan hanya ruang belajar yang layak, tetapi juga tempat tinggal berupa asrama, pakaian seragam, hingga asupan makanan bergizi yang menjadi hak setiap anak bangsa. Pendekatan holistik ini mencerminkan visi pemerintah bahwa pendidikan berkualitas harus dapat diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali.
Fasilitas yang dibangun dalam kompleks Sekolah Rakyat Surabaya sangat lengkap dan terintegrasi. Terdapat ruang kelas untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA dengan kapasitas menampung hingga 1.000 siswa sekaligus. Selain ruang belajar, kompleks ini juga dilengkapi asrama siswa, rumah susun untuk guru, masjid, gedung serbaguna, kantin, instalasi air bersih, serta sarana olahraga berupa lapangan basket dan mini soccer yang mendukung pengembangan fisik peserta didik.
Kelengkapan fasilitas tersebut dirancang agar seluruh kebutuhan siswa dapat terpenuhi dalam satu kawasan terpadu tanpa harus keluar dari lingkungan sekolah. Model pendidikan berasrama seperti ini terbukti efektif dalam membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandirian peserta didik sejak dini, sekaligus memastikan kualitas pembelajaran yang konsisten dan terstandarisasi di seluruh wilayah Indonesia.
Menteri Dody menekankan pentingnya menjaga ritme dan komitmen penyelesaian pekerjaan agar fasilitas pendidikan ini dapat segera beroperasi dan dimanfaatkan pada tahun ajaran baru yang akan dimulai Juli mendatang. Tenggat waktu yang ketat ini menjadi acuan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proyek untuk bekerja lebih keras dan terkoordinasi.
"Saya minta seluruh pihak harus menjaga komitmen agar pembangunan dapat selesai tepat waktu. Insyaallah kalau progres-nya sudah bagus seperti ini akan selesai sebelum 20 Juni. Sehingga pada 1 Juli, fasilitas ini sudah dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar," tegas Menteri Dody.
Bagi lokasi-lokasi yang perkembangannya masih tertinggal, Menteri Dody memberikan arahan tegas agar segera dilakukan langkah-langkah percepatan yang nyata dan terukur di lapangan. Tidak ada ruang untuk kelonggaran mengingat jadwal yang sudah sangat ketat dan kepentingan masyarakat yang menanti manfaat dari program strategis ini.
"Untuk yang masih tertinggal harus segera dikejar dengan langkah konkret di lapangan, termasuk penambahan tenaga kerja dan penguatan pengawasan," pesan Menteri Dody.
Kementerian PU menegaskan komitmennya untuk terus mengawal seluruh proses pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai daerah agar dapat selesai tepat waktu. Dengan pengawasan yang ketat, koordinasi yang solid, dan semangat kerja yang tinggi dari seluruh pihak yang terlibat, pemerintah optimistis program Sekolah Rakyat akan segera memberikan manfaat nyata dan optimal bagi ribuan anak-anak Indonesia dari keluarga prasejahtera yang berhak mendapatkan pendidikan terbaik untuk masa depan mereka.
(tim)































