Padahal, kepemilikan masyarakat masih berkisar di level 10,43 miliar saham atau setara 92,3% kepemilikan di PADI per Februari 2026.
Gelagat Happy Hapsoro untuk melepas keseluruhan sahamnya di PADI mula-mula terlihat lewat keterbukaan informasi pada 5 Maret 2026.
Saat itu, PT Sentosa Bersama Mitra melepas 121,5 juta saham biasa di harga pelaksanaan Rp132 per saham. Kepemilikan Sentosa Bersama susut menjadi 4,67% pada 5 Maret 2026.
Mengutip laporan yang sama, manajemen PADI menerangkan penjualan saham kendaraan investasi Happy Hapsoro itu dilakukan untuk divestasi saham. Nilai transaksi divestasi tahap awal itu mencapai Rp16,03 miliar.
Dari lantai bursa, peforma saham PADI relatif volatil setelah Happy Hapsoro keluar dari struktur pemegang saham akhir Maret lalu.
Saham PADI menguat 9,03% ke level Rp141 per saham pada pukul 09.28 WIB hari ini. Kendati demikian, saham PADI terkoreksi 29,15% dari posisi tertingginya yang sempat menyentuh Rp199 per saham pada Januari 2026 lalu.
Selain kepemilikan masyarakat, saham PADI kini juga dipegang Eveline Listijosuputro 1,11%, Henry Kurniawan Latief 0,23% dan Dojko Joelijanto 0,10%.
Eveline Listijosuputro diputus pailit berdasarkan putusan pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan No.15/Pdt. Sus-Pembatalan Perdamaian/2025/PN.Niaga. Jkt Pst tanggal 21 Mei 2025.
Sementara itu, Djoko Joelijanto saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PADI.
Kendati demikian, manajemen PADI belum berhasil menentukan pengendali atau ultimate beneficiary owner (UBO) setelah beberapa kali ditagih Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
(naw)






























