Rencananya, pabrik pengolahan LPG tersebut bakal onstream pada akhir April 2026. Saat ini, kata Djoko, proses komisioning fasilitas sedang dilakukan.
“Insyaallah ini Bapak Presiden juga direncanakan untuk meresmikan pabrik-pabrik LPG ini. Untuk yang bulan April itu 163 [metrik ton] ditambah 30 [metrik ton] , kira-kira lebih kurang 200 metrik ton per hari,” kata Djoko dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (9/4/2026).
Secara keseluruhan, terdapat tiga proyek pembangunan pabrik pengolahan LPG lainnya yang bakal dibangun.
Pertama, LPG Plant Jambi Merang dengan kapasitas produksi sekitar 320 metrik ton per hari. Rencananya, proyek tersebut bakal onstream perdana pada kuartal II-2027.
Djoko melaporkan saat ini proses lelang proyek sudah rampung dan sedang dalam proses evaluasi kilang eksisting.
Kedua, LPG Plant Senoro dengan perkiraan produksi sekitar 54 metrik ton per hari. SKK Migas menargetkan onstream proyek tersebut pada 2027.
Djoko mengungkapkan saat ini proses pembangunan flare gas recovery sedang dilakukan dan bakal onstream kuartal II-2026. Lalu, proses pengembangan fasilitas pabrik pengolahan LPG dalam proses evaluasi dan dilakukan potensi relokasi kilang eksisting.
Terakhir, terdapat potensi proyek LPG Plant Jawa Timur yang bakal dikerjakan PT ARSynergy dengan perkiraan kapasitas produksi 50 metrik ton per hari. Djoko menargetkan pabrik tersebut onstream pada 2027 dan saat ini sedang dilakukan evaluasi skema dan proses komersialisasi.
Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan impor LPG pada Januari—Februari 2026 mencapai 1,31 juta metrik ton atau setara 83,97% dari total kebutuhan sebesar 1,56 juta metrik ton.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM, produksi LPG domestik pada Januari—Februari 2026 hanya sekitar 130.000 metrik ton.
Pada periode Januari hingga Februari 2026, kebutuhan LPG tercatat mencapai 26.000 metrik ton per hari
“Dari grafik yang kami sampaikan terlihat bahwa produksi dalam negeri masih jauh dibawah kebutuhan sehingga impor LPG tetap mendominasi pasokan nasional,” kata Sekretaris Ditjen Migas Rizwi Jilanisaf Hisjam, dalam rapat kerja bersama Komisi XII, dikutip Kamis (9/4/2026).
Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.
Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Ketiga, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
“Di mana untuk situasi saat ini Bapak Ibu sekalian dengan adanya kendala di Selat Hormuz, maka negara-negara lain selain daripada Timur Tengah menjadi alternatif paling dominan untuk diupayakan importasi LPG-nya pada 2026,” ujar Rizwi.
Dalam kesempatan itu, Rizwi juga mengungkapkan Ditjen Migas Kementerian ESDM menginstruksikan kilang LPG milik swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal tersebut dilakukan Ditjen Kementerian ESDM untuk memitigasi penyediaan pasokan LPG.
(azr/wdh)



























