Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
“Untuk situasi saat ini, dengan adanya kendala di Selat Hormuz, maka negara-negara lain selain Timur Tengah menjadi alternatif paling dominan untuk diupayakan importasi LPG-nya pada 2026,” ujar Rizwi.
Dalam kesempatan itu, Rizwi juga mengungkapkan Ditjen Migas Kementerian ESDM menginstruksikan kilang LPG milik swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal tersebut dilakukan Ditjen Kementerian ESDM untuk memitigasi penyediaan pasokan LPG.
“Kami memberikan prioritas, usulan prioritas kepada kilang-kilang LPG swasta untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patra Niaga yang LPG-nya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” tegas dia.
Sekadar informasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia sempat mengalami kendala LPG, tetapi kondisi tersebut diklaim sudah berhasil diatasi sejak 4 April 2026.
Bahlil menjelaskan saat ini stok LPG nasional sudah berada di atas 10 hari. Dia juga menyatakan sejumlah kargo LPG tambahan bakal segera tiba di RI dalam waktu dekat.
Adapun, stok LPG Indonesia yang disebut berada di sekitar 10 hari masih dibawah batas minimum nasional yang ditetapkan sebesar 11,4 hari.
“Menyangkut LPG, ini teman-teman media saya menyampaikan bahwa masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal kita masuk,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Kamis (9/4/2026).
(azr/wdh)




























