Permintaan seri SPNS tenor sangat pendek naik sebesar 18,24% menjadi Rp13,69 triliun. Padahal, pada lelang sebelumnya seri ini membukukan penawaran Rp11,58 triliun.
Sebaliknya, minat terhadap tenor panjang justru melemah signifikan dengan bid-to-cover ratio turun mendekati level minimal, sebagian bahkan hanya sedikit di atas 1 kali.
Dalam lelang kali ini, agaknya sikap pelaku pasar cenderung mencari aman. Ketidakpastian yang meningkat belakangan ini di tengah perang AS-Israel terhadap Iran agaknya membuat pelaku pasar cenderung menghindari risiko durasi dan memilih instrumen jangka pendek.
Meski ada lonjakan penawaran pada seri tenor pendek kurang dari setahun, pemerintah tetap menahan penyerapan untuk menjaga utang jangka pendek yang bisa jadi berisiko meningkatkan tekanan refinancing di masa depan.
Sebagai gambaran, pada lelang April seri SPNS tenor 1 bulan hanya diserap Rp0,500 triliun dari penawaran yang masuk Rp5,311 triliun. Pada lelang sebelumnya, SPNS tenor 1 bulan diserap sebanyak Rp1,200 tirliun dari jumlah penawaran yang masuk Rp1,700 triliun.
Begitu juga dengan SPNS tenor 6 bulan penawaran yang masuk mencapai Rp3,071 triliun tapi hanya diserap Rp0,500 triliun. Berbeda dengan lelang sebelumnya, tenor yang sama ini mendapat penawaran masuk Rp1,715 triliun dan diserap Rp1,650 triliun.
Di sisi lain, kenaikan yield yang terjadi pada tenor panjang menegaskan hal tersebut. Yield SBSN jangka panjang mendekati 6,8%, hal ini menunjukkan bahwa investor meminta premi risiko yang lebih tinggi daripada lelang sebelumnya.
Maklum, saat lelang berlangsung iklim investasi global sedang kurang bersahabat. Ketegangan geopolitik masih berlangsung dan mendorong lonjakan harga minyak. Selain itu, adanya sikap hati-hati bank sentral Amerika Serikat (AS) terhadap inflasi ikut menambah tekanan bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal pekan ikut membayangi prosesi lelang yang berlangsung kemarin. Selain itu, tekanan terhadap biaya utang juga mulai terlihat. Kementerian Keuangan tercatat memiliki utang jatuh tempo sebesar Rp144,42 triliun pada bulan ini.
"Dengan estimasih kas berlebih (SAL) hanya sekitar Rp120 triliun, setelah dikurangi injeksi SAL menjadi sebesar Rp300 triliun dari total awal Rp420 triliun," sebut Mega Capital Sekuritas dalam catatannya yang disusun oleh Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist dan Nanda Puput Rahmatwai, Fixed Income Analyst, pada Rabu (8/4/2026).
Namun di tengah tekanan tersebut, masih terdapat secercah optimisme. Analis Mega Capital menyebut proses bookbuilding SR024, yang telah mencapai sekitar Rp11,10 triliun atau 74% dari total target, setidaknya memberikan sinyal positif.
Lelang SBSN pada bulan Maret dan April mengindikasikan bahwa investor tak sepenuhnya meninggalkan Indonesia, meski mereka tetap memilih bermain aman. Di tengah ketidakpastian yang terjadi saat ini, investor sepertinya cenderung memendekkan horizon investasinya di pasar surat utang domestik.
(dsp/aji)






























