OJK: Ketegangan Geopolitik-Perang Dagang Berimbas Risk Off Kripto
Merinda Faradianti
06 April 2026 12:48

Bloomberg Technoz, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut bahwa ketegangan geopolitik, eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, hingga perang di Timur Tengah menimbulkan sentimen risk off di pasar kripto global, termasuk Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Adi Budiarso mengatakan, sentimen risk off tersebut terlihat dari turunnya nilai transaksi harga kripto pada akhir tahun 2025 hingga kuartal I tahun 2026 ini.
“Melihat dewasa ini terjadi penurunan nilai transaksi harga kripto di kuartal I, hal ini tidak lepas dari faktor global, siklus pasar, hingga sentimen pasar dengan kejadian geopolitik yang berpengaruh,” kata Adi dalam Rapat Dewan Komisioner OJK atau RDKB OJK Bulanan Maret, Senin (6/4/2026).
Dunia belum lepas dari eskalasi dagang dua kekuatan ekonomi terbesar dunia saat ini, AS-China, kemudian muncul kemudian konflik di Timur Tengah dengan Amerika Serikat yang menyerang Iran akhir Februari. Pada gilirannya mendorong risk off aset keuangan digital kripto, tegas Adi.
Kemudian, pengetatan suku bunga yang tinggi di AS juga mempengaruhi dengan memicu likuidasi yang besar di pasar kripto. Selain itu, faktor lainnya terjadi fenomena kripto halving yang terjadi pada April 2024 lalu.
Kripto halving sendiri merupakan peristiwa pengurangan 50% imbalan (reward) Bitcoin bagi penambang, yang terjadi otomatis setiap empat tahun untuk membatasi pasokan baru. Ini bertujuan mencegah inflasi dan meningkatkan kelangkaan, yang secara historis sering memicu kenaikan harga karena suplai berkurang sementara permintaan tetap atau bisa jadi meningkat
“Secara history ini meningkatkan harga dan aktivitas transaksi. Mencapai puncak, lalu di tahun 2025 memasuki fase konsolidasi dengan ditandai koreksi harga dan penurunan volume transaksi. Marketcap kripto turun sekitar 45% dari US$4,2 triliun pada tahun 2025 akhir Oktober dan menjadi US$2,3 triliun pada Maret 2025,” jelasnya.
Oleh karena itu, OJK berfokus melakukan pengembangan dan terobosan yang bersifat struktural agar ekosistem kripto menjadi lebih kredibel, berintergritas, dan tetap menjaga perlindungan konsumen.
Sebagai catatan, transaksi bulan kedua 2026, nilai transaksi di pasar spot hanya Rp24,33 triliun atau turun 16,9% secara mtm karena catatan pada bulan Januari nilainya masih di Rp29,28 triliun. Secara keseluruh transaksi derivatif aset kripto per Februari juga hanya Rp5,07 triliun, turun dibandingkan Januari Rp8,01 triliun.
Secara akumulasi total transaksi kripto sepanjang 2026 tercatat Rp66,69 triliun, terdiri dari capaian di pasar spot Rp53,61 triliun dan bursa derivatif Rp13,08 triliun.
Dia juga menyampaikan bahwa kapitalisasi pasar kripto dalam negeri per Februari tercatat Rp23,59 triliun, menurun secara mtm Rp27,35 triliun. Di sisi lain, jumlah investor atau konsumen di industri kripto dan AKD masih naik tipis dan menembus Rp21,07 juta dari Rp20,7 juta.






























