Logo Bloomberg Technoz

Geopolitik Memanas, Exchanger Soroti Volatilitas Aset Kripto

Pramesti Regita Cindy
02 April 2026 18:00

Pameran Kripto dalam Dubai Crypto Expo di Dubai, United Arab Emirates (UAE). (Christopher Pike/Bloomberg)
Pameran Kripto dalam Dubai Crypto Expo di Dubai, United Arab Emirates (UAE). (Christopher Pike/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bursa aset kripto dalam negeri menilai bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan berdampak kepada seluruh kelas aset, termasuk kripto. Namun seberapa dia terdampak, akan bergantung pada jumlah asetnya, dijelaskan Kai Pang, CEO Indonesia Crypto Exchange (ICEx) Group.

“Bagi kami, ke depannya dari segi geopolitik, tentu saja ada koin kripto yang jauh lebih volatile, ada koin atau kripto yang less volatile. Contohnya stablecom itu juga lebih less volatile,” ucap Kai di Jakarta, Kamis (2/4/2026). 

Dengan kata lain Kai menjabarkan bahwa untuk investor dengan profil risiko rendah, aset kripto yang relatif lebih stabil seperti Bitcoin dapat menjadi pilihan awal. Sementara investor dengan toleransi risiko lebih tinggi dapat.


Meski demikian, Kai menekankan faktor utama yang perlu diperhatikan investor adalah literasi dan pemahaman risiko sebelum masuk ke pasar kripto. “Tentu geopolitik menurut saya berefek [kepada] seluruh asset class bukan cuma kripto, tapi belakangnya the most important is literasi,” tekannya.

Bursa kripto ICEx dalam perkenalannya, berambisi jadikan Indonesia sebagai pusat kripto di Asia Tenggara. (Pramesti Regita Cindy/Bloomberg Technoz)

Sebagai catatan saja, Bitcoin sebagai mata uang aset kripto paling berharga di dunia ini kenaikannya terbatas. Data mencatat hanya menguat 4,81% dalam sebulan perdagangan berdasarkan data CoinMarketCap. Dibatasi oleh sentimen inflasi energi dan eskalasi perang di Timur Tengah.