Logo Bloomberg Technoz

E-3 Sentry merupakan salah satu aset paling krusial dalam operasi militer modern. Angkatan Udara AS telah menerbangkan pesawat tersebut sejak akhir tahun 1970-an untuk menyediakan kemampuan komando dan kendali serta intelijen, pengawasan, dan pengintaian. 

E-3 Sentry diketahui telah digunakan secara luas dalam Operasi Badai Gurun, perang Kosovo, perang di Irak dan Afghanistan, dan kampanye kontra-ISIS yang dikenal sebagai Operasi Inherent Resolve.

Namun, E-3 Sentry semakin tua, dan kemampuannya tertinggal dibandingkan dengan beberapa musuh utama. Pesawat E-3 Sentry milik United States Air Force telah menyusut menjadi 16 unit karena mereka telah mempensiunkan pesawat yang kurang mumpuni. Pada tahun fiskal 2024, E-3 memiliki tingkat kesiapan misi sekitar 56%, yang berarti sedikit lebih dari setengahnya mampu terbang dan menjalankan misinya pada waktu tertentu.

Jika benar satu unit hancur, hal ini dinilai menjadi pukulan signifikan terhadap kemampuan pengawasan dan manajemen pertempuran AS di kawasan Timur Tengah.

Kondisi jet canggih E-3 Sentry milik AS yang rusak. (UN Space Force, Air Force, Army, Marine Corps, Navy Military and Civilian Forum Media/facebook)

“Kehilangan E-3 ini sangat bermasalah, mengingat betapa pentingnya pesawat-pesawat pengatur pertempuran ini untuk segala hal mulai dari dekonflik wilayah udara, dekonflik pesawat, penargetan, dan memberikan efek mematikan lainnya yang dibutuhkan seluruh pasukan di medan pertempuran,” kata Heather Penney, mantan pilot F-16 dan direktur studi dan penelitian di Mitchell Institute for Aerospace Studies milik AFA, mengutip dari majalah Air & Space.

Serangan ini juga dinilai bukan kebetulan. Iran disebut mulai mengarahkan serangan ke aset-aset kunci pendukung kekuatan udara AS, seperti radar, sistem komunikasi, pesawat tanker, hingga AWACS.

Strategi tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya “kampanye udara balasan asimetris” untuk melemahkan kemampuan proyeksi kekuatan udara AS tanpa harus berhadapan langsung secara konvensional.

“Ini jelas bukan kebetulan,” jelas Kelly Grieco, seorang ahli kebijakan pertahanan dan peneliti senior di Stimson Center.

Iran, dengan menyerang radar, situs komunikasi, pesawat terbang, dan pangkalan, tampaknya berupaya melakukan “kampanye udara balasan asimetris.”

Meski demikian, Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) hingga saat ini masih menolak memberikan komentar terkait insiden tersebut, sehingga tingkat kerusakan maupun status operasional pesawat belum dapat dipastikan secara resmi.

(prc/wep)

No more pages