Selain itu, lima prajurit perdamaian Indonesia yang terluka juga disebutkan, yakni Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana, Praka Rico Pramudia, Praka Arif Kurniawan, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Deni Rianto.
"Kami tidak dapat menerima terbunuhnya penjaga perdamaian tersebut. Ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia dan juga kehilangan besar bagi kita semua," lanjutnya.
Kemarahan Indonesia di forum tersebut bukan tanpa alasan. Umar menjelaskan bahwa para prajurit perdamaian menjadi sasaran serangan ketika mereka sedang menjalankan mandat yang diberikan oleh Dewan Keaman itu sendiri.
Oleh karena itu, Indonesia mengutuk keras serangan-serangan tersebut sekaligus meminta pihak-pihak yang relevan untuk memulangkan jenazah personel yang gugur dengan cepat, aman, dan bermartabat.
"Serta meminta perawatan medis terbaik dan komprehensif terhadap lima penjaga perdamaian yang terluka untuk menjamin pemulihan cepat dan penanganan menyeluruh," imbuh Umar.
Dalam forum tersebut, Indonesia turut menyoroti meningkatnya serangan terhadap personel UNIFIL dalam beberapa waktu terakhir seiring memanasnya konflik di Lebanon selatan.
Menyikapi hal tersebut, Indonesia menilai bahwa serangan beruntun itu bukan sekadar insiden, melainkan tindakan yang disengaja untuk melemahkan dan menggagalkan mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi DK PBB 1701 terkait gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
Lebih lanjut, Indonesia juga menilai bahwa meningkatnya ketegangan tersebut sejatinya bermula dari serangan berulang militer Israel ke wilayah Lebanon.
Oleh karenanya, Indonesia mengecam serangan Israel yang dianggap telah melanggar serius kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon. Selain itu, Umar juga menyampaikan bahwa Indonesia tetap menjaga solidaritas dengan pemerintah dan rakyat Lebanon.
"Serangan-serangan ini mencerminkan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional dan mungkin merupakan bentuk kejahatan perang menurut hukum internasional," imbuh Umar.
(red)



























