“Tapi ini udah kita hitung semua kan, nanti dengan even dengan rata-rata US$100/barel pun, kita sudah kunci defisitnya di bawah 3%, sekitar 2,9%. Jadi enggak masalah. Bisa kendalikan di bawah 3% dengan baik,” ujarnya.
Dia menambahkan ruang fiskal APBN masih cukup longgar karena masih ada pendapatan lain yang dapat menekan defisit di bawah 3%.
“Nanti diumumin bulan Mei, tapi di bawah 2,9%. Jadi biasanya anggaran kita memang seperti itu, kita bisa membuat langkah-langkah baru yang menekan atau meningkatkan pendapatan kita,” jelas dia.
Di sisi lain, Purbaya menyebut beban subsidi dalam APBN akan bertambah hingga Rp100 triliun, lantaran pemerintah menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
“[anggaran subsidi nambah] Rp90 triliun - Rp100 triliun. Itu subsidi, kompensasi lain lagi,” kata Purbaya.
Dengan demikian, alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 sejumlah RpRp381,3 triliun bisa bertambah menjadi Rp481,3 triliun.
Total pagu anggaran subsidi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp210,06 triliun.
Dengan perincian anggaran subsidi Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) mencapai Rp25,14 triliun; subsidi LPG tabung 3 Kg mencapai Rp80,26 triliun; dan subsidi listrik sebanyak Rp104,64 triliun.
(ain)





























