Logo Bloomberg Technoz

Namun di sisi lain, jika impor lebih tinggi daripada ekspor, seperti proyeksi para ekonom dalam konsensus ini, maka tekanan terhadap neraca perdagangan bisa terbuka lebar. Sebab itu artinya, banyak devisa yang keluar untuk menbayar barang dari luar negeri, daripada yang masuk dari penjualan ekspor. 

Selain barang modal, struktur impor Indonesia juga masih didominasi oleh komponen yang cukup sensitif terhadap gejolak global, seperti minyak mentah, dan bahan baku industri. Saat ini harga minyak masih bertengger di atas US$100 per barel. Meski volume impornya mungkin tetap, tapi nilainya bisa jadi membengkak lantaran ada perubahan harga. 

Tak heran jika ketahanan eksternal Indonesia sedikit ringkih. Sebab, membaiknya ekspor memang memberi dukungan pada neraca perdagangan, tetapi ketergantungan terhadap impor membuat surplus jadi sangat sensitif terhadap siklus harga global. 

Selain itu, produk andalan ekspor Indonesia merupakan komoditas yang harganya mudah berubah, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) yang bersifat fluktuatif. Sehingga, variabel penentu capaian neraca perdagangan sangat bergantung pada harga, bukan hanya volume. 

Konsesus Bloomberg memproyeksikan neraca perdagangan Februari mencatat surplus dengan mendian sekitar US$1,5 miliar. Lebih baik dari capaian bulan sebelumnya US$954 juta.

Akan tetapi, ada rentang proyeksi yang cukup jauh antrara US$800 juta hingga US$4 miliar oleh para ekonom, hal ini sepertinya menggambarkan kondisi ketidakpastian geopolitik terjadi belakangan di Timur Tengah yang dapat memengaruhi capaian ekspor. 

Sebagai catatan, tahun lalu ekspor dalam negeri ke kawasan Timur Tengah tercatat mencapai sekitar US$9,87 miliar atau mengambil porsi 3,49% dari total ekspor. Negara terbesar adalah Uni Emirat Arab (UEA) yang mengambil porsi sekitar 40%. Sementara itu, Arab Saudi mengambil porsi sekitar 29%. Lalu, ekpsor ke Iran hanya sebesar 2,5% atau setara sekitara US$250 juta.

(dsp/aji)

No more pages