Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Makin 'Liar' di Luar Negeri, Sudah di Atas Rp17.000/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
31 March 2026 07:29

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak liar, menyusul kenaikan harga minyak mentah yang semakin melambung. 

Di pasar offshore, Selasa (31/3/2026), rupiah telah menyentuh level psikologis Rp17.015/US$ pagi ini, setelah kemarin pada 16:20 WIB menyentuh level tertinggi sejak April 2025 di Rp17.048/US$. Pada 8 April tahun lalu, rupiah offshore sempat menyentuh level Rp17.105/US$.

Pergerakan rupiah di pasar offshore menyentuh level tertingginya sejak April 2025 Rp17.048/US$. (Bloomberg)

Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 3,4% menjadi lebih dari US$106/US$ per barel, sementara Brent dibanderol US$112 per barel, setelah serangan Iran terhadap kapal pengangkut minyak mentah Kuwait di pelabuhan Dubai dan ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan meningkatkan eskalasi serangan terhadap Iran, termasuk menargetkan infrastruktur energi sipil. 


Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama pun bertahan di level 100. Tekanan ini ikut menjalar pada mata uang di pasar Asia, meski pelemahannya masih relatif kecil di pasar yang sudah dibuka.

Dolar Singapura melemah 0,09%, yen Jepang 0,08%, yuan offshore China 0,05%. Sementara, hanya dolar Hong Kong yang terlihat sedikit stabil dengan perubahan 0,01%.